Selasa, 17 Januari 2012

Membaca Yaa Siin

“Sesungguhnya setiap sesuatu ada hatinya, dan sesungguhnya hati al Quraan adalah (Yaasin), barang siapa yang membacanya; seolah-olah dia telah membaca al Qur`aan sepuluh kali.”

Hadits ini dikeluarkan oleh at Tirmidziy (4/46), ad Daarimiy (2/456) dari jalan Humeid bin `Abdirrahman dari al Hasan bin Shoolih dari Haarun Abi Muhammad dari Muqaatil bin Hibbaan dari Qataadah dari Anas marfuu`an. Berkata at Tirmidziy: “Hadist ini hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini, sedang Haarun abu Muhammad majhuul (tidak dikenal), pada bab ini juga dari Abu Bakr as Shiddiiq, tidak shohih, sebab sanadnya lemah, dan pada bab ini juga dari Abi Hurairah radhiallahu `anhu.”

Jadi hadits tersebut memanglah hadits dha’if atau lemah, tetapi tidak sampai maudhu’ atau palsu. Bahkan At-Tarmidzi mengatakan bahwa hadits itu hasan gharib. Dalam hal fadhilah atau keutamaan suatu amal, hadits dha’if masih dapat dipakai. Karena hadits dha’if itu masih dianggap hadits atau perkataan Rasulullah SAW, hanya saja jalur periwayatannya kurang kuat. Hadits dha’if ini masih diambil sebagai hadits. 

Barangsiapa menyebut hadits dha’if sebagai hadits palsu, berarti ia telah mendustakan Rasul. Hadits dha’if adalah perkataan Rasul, barangsiapa mendustakannya, berarti mendustakan perkataan Rasul. Barangsiapa mendustakan perkataan Rasul, maka bersiaplah atas tempatnya di neraka. 

 "Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu., ia berkata: "Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa membaca surat Yasin di malam hari, maka paginya ia mendapat pengampunan, dan barangsiapa membaca surat Hamim yang didalamnya diterangkan masalah Ad-Dukhaan (Surat Ad-Dukhaan), maka paginya ia mendapat mengampunan". (Hadits riwayat: Abu Ya'la). Sanadnya baik. (Lihat tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir Surat Yaasiin). 

“ Dari Ma'qil bin Yasaar radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah Surat Yaasiin atas orang mati kalian" (Hadits riwayat: Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
 
“ Dari Ma'qil bin Yasaar radliallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: Surat Al-Baqarah adalah puncak Al-Qur'an, 80 malaikat menyertai diturunkannya setiap ayat dari surat ini. Dan Ayat laa ilaaha illaa Huwa Al-Hayyu Al-Qayyuumu (Ayat Kursi) dikeluarkan lewat bawah 'Arsy, kemudian dimasukkan ke dalam bagian Surat Al-Baqarah. Dan Surat Yaasiin adalah jantung Al-Qur'an, seseorang tidak membacanya untuk mengharapkan Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa dan Hari Akhir (Hari Kiamat), kecuali ia diampuni dosa-dosanya. Dan bacalah Surat Yaasiin pada orang-orang mati kalian".(Hadits riwayat: Ahmad) 

Sedangkan yasinan adalah acara membaca surat yasin yang biasanya juga dirangkai dengan tahlilan. Di kalangan masyarakat Indonesia istilah tahlilan dan yasinan populer digunakan untuk menyebut sebuah acara dzikir bersama, doa bersama, atau majlis dzikir. Singkatnya, acara tahlilan, dzikir bersama, majlis dzikir, atau doa bersama adalah ungkapan yang berbeda untuk menyebut suatu kegiatan yang sama, yaitu: kegiatan individual atau berkelompok untuk berdzikir kepada Allah. Pada hakikatnya tahlilan adalah bagian dari dzikir kepada Allah.
Sampainya pahala orang hidup yang dihadiahkan bagi orang meninggal                               
Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa barang siapa mengingkari sampainya amalan orang hidup pada orang yang meninggal maka ia termasuk ahli bid’ah. Dalam Majmu’ fatawa ia menyatakan, “Para imam telah sepakat bahwa mayit bisa mendapat manfaat dari hadiah pahala orang lain. Ini termasuk hal yang pasti diketahui dalam agama islam dan telah ditunjukkan dengan dalil kitab, sunnah dan ijma’ (konsensus ulama’). Barang siapa menentang hal tersebut maka ia termasuk ahli bid’ah”.    

Lebih lanjut Ibnu Taimiyah menafsirkan firman Allah “dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS an-Najm [53]: 39) ia menjelaskan, Allah tidak menyatakan bahwa seseorang tidak bisa mendapat manfaat dari orang lain, Namun Allah berfirman, seseorang hanya berhak atas hasil usahanya sendiri. Sedangkan hasil usaha orang lain adalah hak orang lain. Namum demikian ia bisa memiliki harta orang lain apabila dihadiahkan kepadanya.  Begitu pula pahala, apabila dihadiahkan kepada si mayyit maka ia berhak menerimanya seperti dalam solat jenazah dan doa di kubur. Dengan demikian si mayit berhak atas pahala yang dihadiahkan oleh kaum muslimin, baik kerabat maupun orang lain” 

Dalam kitab Ar-Ruh hal 153-186 Ibnul Qayyim membenarkan sampainya pahala kepada orang yang telah meninggal. Bahkan Ibnul Qayyim menerangkan secara panjang lebar sebanyak 33 halaman tentang ini dalam kitabnya.  Sebagian kaum muslimin terutama di Indonesia ini, melakukan tahlilan dan yasinan sebab kematian keluarga mereka, karena memang ingin menghadiahkan pahala kepada keluarga mereka. Dan amalan ini mereka dasarkan kepada hadits-hadits Rasulullah SAW di atas yang secara jelas menerangkan sampainya pahala itu kepada mayit.

Jumat, 13 Januari 2012

BAROKAH-KAH RIZKIKU ????

“Doakan saya mendapat rezeki yang banyak ya Mak..”
 Bukan banyak! tapi yang terpenting, barokah Nak..”
Meski rezekimu banyak kalau tidak barokah..percuma saja.
Tidak ada ketenangan hidup, masalah sulit dicari jalan keluarnya, jasmani tidak sehat,anak bukan menjadi penyejuk hati tapi malah makan hati,suami istri berantem tiap hari,dan banyak lagi permasalahan yang seolah tidak ada ujungnya.


Pesan ini selalu teringat di benak saya hingga kini..
Bukan BANYAK tapi yang penting BAROKAH.

Seperti apa rezeki yang barokah itu?
Umur yang barokah?
Serta keluarga yang barokah?

Terkadang kita sebagai manusia sering lupa untuk bersyukur pada Allah karena saking banyaknya nikmat yang diberikan, sampai seolah terasa tidak ada nikmat yang diberikan olehNya.
Betapa kufurnya kita.. padahal jika kita sadar,satu saja nikmat dicabut Allah..kita sudah kelabakan, bingung bagaimana mencari solusinya.

Coba saja jika tiba-tiba Allah menutup saluran pembuangan kita, berhari-hari kita tidak bisa buang air besar maupun kecil. Kira-kira berapa ratus juta akan kita keluarkan untuk menormalkan kembali saluran pembuangan kita? Jika sudah demikian rezeki banyak yang senantiasa diminta kepada Allah akan berkurang banyak pula untuk kesembuhan kita. Yang demikian ini rezeki yang kita terima tidak barokah,entah cara mencarinya yang salah… atau mendapatkannya dengan mendzalimi orang lain.

Beda dengan orang yang diberikan rezeki sedikit tapi barokah.. Ia akan dicukupkan hidupnya oleh Allah, keinginannya senantiasa terkendali terhadap hal-hal yang menjadi kebutuhannya, apa yang dimakannya memberikan kesehatan dan ketentraman dalam hidupnya, keluarga menjadi penyejuk hati, ayah,ibu dan anak saling mengerti akan keadaan, diberi kecerdasan dan kesabaran dalam menjalani hidup dan yang terpenting diberi kenikmatan untuk menjalankan ibadah,menjaga keimanan untuk taat pada Allah. Bagaimana caranya mendapatkan rezeki yang barokah? menjadikan umur kita barokah? sehingga pada akhirnya keluarga kita merasakan barokah dari Allah.

Islam telah menuntun kita agar senantiasa mencari rezeki yang halal (baik caranya maupun wujudnya) dan menjauhkan diri kita dari rezeki yang haram, tinggal kita sendiri bisa tidak menjalaninya.
Ketika apa yang kita inginkan tercapai,misal mendapatkan uang dengan cara yang halal, lantas digunakan untuk apa uang ini?
- apakah sekedar kita belanjakan hingga habis untuk segala keperluan kita?
- apakah terlebih dulu kita menyisihkan sebagian untuk dizakatkan?
- atau mungkin kita gunakan untuk banyak bersedekah?
- atau bahkan kita gunakan untuk hal-hal yang salah, yang tidak mendapatkan ridho Allah?
Hal di atas menentukan rezeki yang kita terima dari Allah menjadi berkah atau tidak dalam kehidupan kita.

Demikian pula dengan umur yang kita miliki.. kita manfaatkan untuk apa umur kita?
- apakah digunakan untuk beribadah kepada Allah dan bekerja sebagai sarana mencukupi kebutuhan hidup?
- atau mungkin digunakan untuk berbagi ilmu terhadap sesama?
- atau bahkan hanya digunakan untuk berfoya-foya menghabiskan harta yang dimilik?
Ketika umur yang kita miliki dimanfaatkan untuk hal-hal yang bisa mendapatkan ridho Allah,insyaAllah umur kita menjadi berkah..tetapi jika tidak.. mungkin banyak permasalahan yang melanda hidup kita, yang membuat seseorang apatis menjalani hidup.

Saudaraku, hidup di dunia ini memang menyenangkan.. namun janganlah lupa ada kehidupan lagi di Yaumil Akhir yang harus kita perjuangkan sejak kita di dunia. Bukan justru kita abaikan… Apa yang kita dapatkan saat ini hendaknya menjadi sarana agar kita memiliki bekal untuk hari esok karena kelak di Yaumil Akhir kita akan melaluinya lebih lama daripada di dunia.

Marilah mulai sekarang kita belajar mensyukuri nikmat yang Allah berikan, bukan hanya nikmat harta benda tetapi nikmat Islam,Iman dan ihsan.. Bersyukur bukan hanya mengucapkan Alhamdulilah, tetapi juga banyak berbagi baik harta maupun ilmu pada sesama. Mencari rezeki dengan cara yang halal dan tidak mendzalimi orang lain, membersihkan penghasilan dengan mengeluarkan zakat,memanfaatkan rezeki untuk hal-hal yang diridhoi Allah.. InsyaAllah rezeki,umur dan kehidupan kita akan mendapat barokah dariNya.Amin..

Ya Allah Ya Razaq..
Jadikanlah rezeki yang engkau berikan cukup bagi kami,
Jadikan kami bermanfaat bagi lingkungan sekitar kami
Berkahilah pekerjaan,rezeki,keluarga dan umur kami Ya Rahman…
Amin.. 

Minggu, 08 Januari 2012

SHALAT JAMA’ DAN QASHAR


Islam adalah Agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Maksudnya, Islam adalah agama yang sesuai dengan kondisi dan keterbatasan yang dimiliki oleh manusia. Pada keadaan normal, berlaku hukum ‘azimah (ketat). Dan pada keadaan tidak normal, maka Islam mengakomodirnya dengan rukhsah (keringanan/kemudahan) sehingga syariat tetap dapat ditunaikan.

Sungguh, sebuah hal yang ironis jika hari ini kita tidak tahu akan berbagai macam kemudahan dalam Islam sehingga kita merasakan beratnya menjalankan agama ini. Padahal kemudahan tersebut bahkan mencakup berbagai aspek dalam kehidupan kita, baik itu dalam hal aqidah, ibadah, syariat maupun muamalah. Telah banyak dalil dari al-Qur’an dan As-Sunnah yang menerangkan kepada kita akan hal ini.

Di antaranya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, artinya : “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al Baqarah : 185). Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda : ” Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). ....” (HR. Bukhari).

SHALAT  JAMA'

Menjama' shalat adalah mengabungkan antara dua shalat (Dhuhur dan Ashar atau Maghrib dan 'Isya') dan dikerjakan dalam waktu salah satunya. Boleh seseorang melakukan jama' taqdim dan jama' ta'khir. [ Lihat Fiqhus Sunnah 1/313-317].

Jama' taqdim adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat pertama, yaitu; Dhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Dhuhur, Maghrib dan 'Isya' dikerjakan dalam waktu Maghrib. Jama' taqdim harus dilakukan secara berurutan sebagaimana urutan shalat dan tidak boleh terbalik.

Adapun jama' ta'khir adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat kedua, yaitu; Dhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Ashar, Maghrib dan 'Isya'dikerjakan dalam waktu, Isya', Jama' ta'khir boleh dilakukan secara berurutan dan boleh pula tidak berurutan akan tetapi yang afdhal adalah dilakukan secara berurutan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. [Lihat Fatawa Muhimmah, Syaikh Bin Baz 93-94, Kitab As-Shalah, Prof.Dr. Abdullah Ath-Thayyar 177].

Menjama' (menggabungkan) shalat boleh dilakukan karena beberapa sebab, di antaranya :

[1]. Safar (Perjalanan).  Dari Anas  RA berkata, adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila akan bepergian sebelum matahari bergeser ke arah barat, beliau menangguhkan shalat dzuhur kemudian (setelah tiba waktu ashar beliau singgah (di suatu tempat), lalu menjama' keduanya dan apabila matahari tergelincir sebelum berangkat, maka beliau shalat dzuhur, kemudian berangkat."
(HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pada perang Tabuk apabila akan bepergian sebelum matahari tergelincir bergeser ke arah barat, Rasulullah mengakhirkan shalat dzuhur hingga menjama'nya dengan shalat ashar, beliau mengerjakan keduanya secara jama'. Apabila akan berangkat sebelum maghrib Rasulullah mengakhirkan hingga mengerjakannya dengan shalat isya' yaitu menjama'nya dengan maghrib dan apabila akan berangkat setelah maghrib, Rasulullah menjama' shalat isya dengan shalat maghrib."  
(HR. Tirmidzi dan Abu Dawud).

[2]. Hujan.  Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjama' antara dzuhur dengan ashar dan maghrib dengan isya' di Madinah bukan karena takut dan bukan (pula) karena hujan." (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa menjama' shalat karena hujan sudah dikenal pada masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, andaikata tidak demikian tentu tidak bermanfaat menafikan hujan sebagai sebab bolehnya menjama' shalat. Demikian menurut penjelasan Syaikh al-Albani dalam Irwa-ul GhaIil III: 40.

[3]. Kepentingan yang Mendesak.  Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, "Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjama' shalat dzuhur dengan shalat ashar di Madinah bukan karena takut dan bukan (pula) karena safar." Abu Zubair bertutur, "Saya pernah bertanya kepada Sa'id, "Mengapa Rasulullah berbuat demikian itu?", maka jawabnya, "Saya pernah bertanya kepada lbnu Abbas sebagaimana yang engkau tanyakan kepadaku ini, maka jawab Ibnu Abbas, "Rasulullah tidak ingin memberatkan seorangpun dari kalangan ummatnya." (Shahih : Shahihul Jami'us Shaghir no: 1068).  Namun, dalam kondisi di atas, Imam Nawawi rahimahullah berkata : "Sejumlah ulama' berpendapat bolehnya menjama' di waktu muqim karena ada hajat (mendesak) (hukumnya) boleh, asalkan tidak menjadikannya sebagai kebiasaan (Lihat Syarh Muslim, Imam Nawawi.5/219).

Menjama’ Shalat Jum’at dan Shalat Ashar

Adapun menjama’ shalat jum'at dengan ashar, maka hal ini tidak diperbolehkan dengan alasan apapun baik musafir, orang sakit, turun hujan atau ada keperluan dll-, walaupun dia adalah orang yang di perbolehkan menjama' antara Dhuhur dan Ashar. Hal ini di sebabkan tidak adanya dalil tentang menjama' antara Jum'at dan Ashar, dan yang ada adalah menjama' antara Dhuhur dan Ashar dan antara Maghrib dan Isya'.

Jum'at tidak bisa diqiyaskan dengan Dhuhur karena sangat banyak perbedaan antara keduanya. Ibadah harus dengan dasar dan dalil, apabila ada yang mengatakan boleh maka silahkan dia menyebutkan dasar dan dalilnya dan dia tidak akan mendapatkannya karena tidak ada satu dalilpun dalam hal ini.Jadi kembali kepada hukum asal, yaitu wajib mendirikan shalat pada waktunya masing-masing kecuali apabila ada dalil yang membolehkan untuk menjama’ (menggabungnya) dengan shalat lain. (Lihat Majmu' Fatawa Syaikh Utsaimin 15/ 369-378).

Adapun tentang shalat jumat dalam safar, kebanyakan ulama berpendapat bahwa tidak ada shalat Jum'at bagi musafir, namun apabila musafir tersebut tinggal di suatu daerah yang diadakan shalat Jum'at maka wajib atasnya untuk mengikuti shalat jum'at bersama mereka. [Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/216, Al-Majmu' Syarh Muhadzdzab, Imam Nawawi 4/247-248, lihat pula Majmu' Fatawa Syaikh Utsaimin 15/370].

Dalilnya adalah bahwasanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila safar (bepergian) tidak shalat Jum'at dalam safarnya, juga ketika Haji Wada' beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melaksanakan shalat Jum'at dan menggantinya dengan shalat Dhuhur yang dijama' (digabung) dengan Ashar [Lihat : Hajjatun Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Kama Rawaaha Anhu Jabir -radhiallahu anhu, Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani hal 73].  Demikian pula para Khulafa Ar-Rasyidun (empat khalifah) radhiallahu anhum dan para sahabat lainnya radhiallahu anhum serta orang-orang yang setelah mereka apabila safar tidak shalat Jum'at dan menggantinya dengan Dhuhur.[Lihat Al-Mughni, Ibnu Qudamah 3/216].

SHALAT QASHAR

Qashar adalah meringkas shalat empat rakaat (Dhuhur, Ashar dan Isya) menjadi dua rakaat.   [Lihat Tafsir Ath-Thabari 4/244, Al Mu'jam Al Washit hal 738]. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya : ”Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar salatmu, jika kamu takut di serang orang-orang kafir" [QS. An-Nisaa': 101].

Dari Ya'la bin Umayyah bahwasanya dia bertanya kepada Umar bin Kaththab RA  tentang ayat : "Jika kamu takut di serang orang-orang kafir", padahal (saat ini) manusia telah aman ? Sahabat Umar radhiallahu anhu menjawab : Aku sempat heran seperti keherananmu itu lalu akupun bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam tentang hal itu dan beliau menjawab : (Qashar itu) adalah sedekah dari Allah kepadamu, maka terimahlah sedekah Allah tersebut. [HR. Muslim, Abu Dawud dll. Lihat Al-jami'li Ahkamil Qur'an, Al- Qurthubi 5/226-227]

Dari Ibnu Umar RA  berkata : Aku menemani Rasulullah SAW dalam safar dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka'at sampai wafat, kemudian aku menemani Abu Bakar RA  dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka'at sampai wafat, kemudian aku menemani Umar RA dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka'at sampai wafat, kemudian aku menemani Utsman radhiallahu anhu dan beliau tidak pernah menambah atas dua raka'at sampai wafat. Dan Allah subhaanahu wa ta'ala telah berfirman :Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu." [QS. Al-Ahzaab : 21]. (HR. Bukhari dan Muslim).

Jarak Safar Untuk Qashar Bagi Musafir

Para ulama telah berbeda pendapat dalam menentukan jarak musafir yang membolehkan untuk mengqashar shalat. Mazhab Hanafi menentukan jaraknya minimal perjalanan tiga hari tiga malam dan tidak mesti perjalanan itu dari pagi sampai sore, tetapi cukup dengan perjalanan dari pagi sampai tergelincir matahari. Sementara jumhur ulama menentukan jarak perjalanan yang membolehkan qashar itu perjalanan selama dua hari atau dua marhalah dengan perjalanan berbeban. Menurut DR. Wahbah az-Zuhaili, jarak perjalanan tersebut ditaksir empat barid atau 16 farsakh atau 48 mil. Satu mil sama dengan 3500 hasta. Ini ditaksir 89 km atau tepatnya 88,704 km.

Sebagian ulama lainnya, seperti Syaikh Nashiruddin Al Albani rahimahullah berkata : Tidak ada batasan jarak tertentu dengan ukuran kilometer atau marahil. Karena ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan safar dalam Al-Qur`an berkaitan dengan qashar shalat ataupun kebolehan berbuka (tidak puasa) di bulan Ramadhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan safar secara mutlak, tanpa menetapkan batasannya.

Dalam hal ini, Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata : ”Dalam suatu nazham (sya’ir kaidah fiqh) disebutkan : ”Setiap perkara yang timbul dan tak ada ketentuan syara', maka lindungilah dengan ketentuan adat (kebiasaan) suatu tempat ('urf)". Jadi, setiap itu disebut safar menurut kebiasaan (‘urf) dan menurut pengertian syar’i, berarti itulah safar, baik jaraknya jauh ataupun dekat. Perjalanan tersebut safar menurut kebiasaan yang dikenali di tengah manusia.

Dari sisi syar’i memang orang yang menempuhnya bertujuan untuk safar. Karena terkadang kita dapati ada orang yang menempuh jarak jauh bukan untuk safar, seperti kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah : “Terkadang seseorang keluar dari negerinya untuk berburu. Lalu ia tidak mendapatkan buruannya hingga ia terus berjalan mencari-cari sampai akhirnya ia tiba di tempat yang sangat jauh. Ternyata di akhir pencariannya ia telah menempuh jarak yang panjang, ratusan kilometer. Kita menganggap orang ini bukanlah musafir, padahal bila orang yang keluar berniat safar dengan jarak yang kurang daripada yang telah ditempuhnya telah teranggap musafir. Tapi pemburu ini keluar dari negerinya bukan bertujuan safar sehingga ia bukanlah musafir. Berarti yang namanya safar harus menurut ‘urf (adat masyarakat) dan sesuai pengertian syar’i. (Lihat Al-Hawi min Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 227)

Batas Wilayah Mengqashar Shalat

Seorang musafir diperbolehkan mengqashar shalatnya apabila telah meninggalkan kampung halamannya sampai dia pulang kembali ke rumahnya. [Lihat Al-Wajiz, Abdul Adhim Al-Khalafi 138]. Syaikh Nashiruddin Al Albani rahimahullah berkata, “Safar itu dimulai dari keluarnya seseorang dari negeri/daerahnya, terhitung dari batas daerahnya. Berkata Ibnul Mundzir: Aku tidak mengetahui (satu dalilpun) bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa ala alihi wasallam mengqashar dalam safarnya melainkan setelah keluar (meninggalkan) kota Madinah. Berkata Anas radhiallahu anhu : Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamdi kota Madinah empat raka¡¦at dan di Dzul Hulaifah (luar kota Madinah) dua raka'at" . [HR. Bukhari dan Muslim].

Sampai Kapan Mengqashar Shalat ?

Para ulama berbeda pendapat tentang batasan waktu sampai kapan seseorang dikatakan sebagai musafir dan diperbolehkan meng-qashar (meringkas) shalat. Jumhur (sebagian besar) ulama yang termasuk di dalamnya imam empat berpendapat bahwa ada batasan waktu tertentu. Namun para ulama yang lain diantaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Muhammad Rasyid Ridha, Syaikh Abdur Rahman As-sa'di, Syaikh Utsaimin dan para ulama lainnya rahimahumullah berpendapat bahwa seorang musafir diperbolehkan untuk meng-qashar shalat selama ia mempunyai niatan untuk kembali ke kampung halamannya walaupun ia berada di perantauannya selama bertahun-tahun. Karena tidak ada satu dalilpun yang sahih dan secara tegas menerangkan tentang batasan waktu dalam masalah ini. Dan pendapat inilah yang rajih (kuat) berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak, di antaranya : Sahabat Ibnu Abbas radhiallahu anhuma meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah SAW  tinggal di Makkah selama sembilan belas hari meng-qashar shalat. (HR. Bukhari).

Dari dalil ini jelaslah bahwa Rasulullah SAW tidak memberikan batasan waktu tertentu untuk diperbolehkannya mengqashar shalat bagi musafir selama mereka mempunyai niat untuk kembali ke kampung halamannya dan tidak berniat untuk menetap di daerah perantauan tersebut. [Lihat Majmu' Fatawa Syaikh Utsaimin jilid 15, Irwa'ul Ghalil Syaikh Al-Albani jilid 3, Fiqhus Sunnah 1/309-312].
Musafir Shalat Di Belakang Muqim

Shalat berjama’ah adalah wajib bagi orang muqim ataupun musafir, apabila seorang musafir shalat di belakang imam yang muqim maka dia mengikuti shalat imam tersebut yaitu empat rakaat, namun apabila dia shalat bersama-sama musafir maka shalatnya diqashar (dua raka'at). Hal ini di dasarkan atas riwayat sahih dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma. Berkata Musa bin Salamah : Suatu ketika kami di Makkah (musafir) bersama Ibnu Abbas, lalu aku bertanya : Kami melakukan shalat empat raka'at apabila bersama kamu (penduduk Mekkah), dan apabila kami kembali ke tempat kami (bersama-sama musafir) maka kami shalat dua raka'at ? Ibnu Abbas radhiallahu anhuma menjawab : Itu adalah sunnahnya Abul Qasim (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”¨ (HSR.Ahmad, Lihat Irwa'ul Ghalil no.571 dan Tamamul Minnah, Syaikh Al-Albani 317).

Musafir Menjadi Imam Orang Muqim

Apabila musafir dijadikan sebagai imam orang-orang muqim dan dia mengqashar shalatnya maka hendaklah orang-orang yang muqim meneruskan shalat mereka (setelah salam) sampai selesai (empat raka'at), namun agar tidak terjadi kebingungan hendaklah imam yang musafir memberi tahu makmumnya bahwa dia hendak  shalat qashar. Hal ini pernah di lakukan Rasulullah shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam ketika berada di Makkah (musafir) dan menjadi imam penduduk Mekkah, beliau shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam berkata: Sempurnakanlah shalatmu (empat raka’at) wahai penduduk Mekkah ! Karena kami adalah musafir. (HR. Abu Dawud). Beliau shallallahu alaihi wa'ala alihi wasallam shalat dua-dua (qashar) dan mereka meneruskan sampai empat raka'at setelah beliau salam. [Lihat Al-Majmu' Syarah Muhadzdzab 4/178 dan Majmu' Fatawa Syaikh Utsaimin 15/269].

Penulis kutip dari http://www.al-munir.com/artikel-199-seputar-shalat-jamak-dan-qashar.html dengan penambahan dan pengurangan seperlunya.Wallahu A’lam.

Jumat, 06 Januari 2012

Kajian Hakikat Versi Abu Sangkan


Tadi malam Raboan kumpul para patrapist angkatan pertama. duduk dalam lingkaran halaqah. tidak lagi membicarakan siapa diri dan siapa Tuhan, tidak lagi bicara sifat , Af'al dan Zat Allah. Kami duduk dalam aktivitas ruhani menerobos ikatan diri yang sangat kuat, menerobos kepalsuan perasaan dan pikiran. Ruhku mulai berjalan perlahan dengan bekal makrifatku, aku tinggalkan diri wadagku menjadi diri Cahaya tiupan illahy yang masih bercampur kabut pekat akal nafsuku.
 Kami tetap bersabar dan terus berjalan tanpa berhenti. dalam setiap wilayah kesadaranku masih ada dan itu masih bukan ! teruskan !! akalmu masih bermain, ilmumu masih terlibat !! apa yang kamu pelajari tidak ada disini, apa yang kamu pikirkan tidak ada disini. apa yang kamu perkirakan tidak ada disini.Maka hilangkan akal palsumu sebab akal tidak akan menangkap keadaan seperti dalam akalmu. ini baru awal kawan
Keadaan seperti menjelang tidur diperlukan akal dan pikiranmu lenyap, maka engkau akan berada dalam mimpi, tapi bukan mimpi !! bersiaplah dengan sabar karena engkau akan berjumpa dengan-Nya. apa yang akan engkau lakukan ketika dihadapan-Nya ? apa tujuan kalian ? apa maksud kalian menemui Tuhan ? keadaan ini terasa hening akibat ruhmu telah keluar dari orbit tubuhmu....perasaan sedih dan senang tidak ada, rasa penat dan kantuk tidak ada, rasa cinta dan marah tidak ada..semua rasa tidak ada !! karena engkau telah meniggalkan wilayah rasa dalam dadamu.....tinggal selangkah lagi engkau berjalan.....berbisiklah kepada beliau sang Penguasa jagat raya...aku bersedia dikuasai sepenuhnya , aku bersedia dikuasai ! biarkan ruh kalian dalam kuasa-Nya dalam kehendak-Nya, dalam kemauan-Nya...lepaskan saja jangan terlibat sedikitpun..jangan takut !! engkau akan berada dalam kondisi jadz dzaab !! namun hanya sekejab

Kawan ...mari kita evaluasi mengapa hanya sekejab ? hafalkan kondisi ketika ruhmu hampir dalam kuasa-Nya. mulailah kembali dari pintu pelepasan Ruhmu....langsung saja berada dalam wilayah tersebut tanpa harus memulai dari awal perjalanan..... kali ini engkau harus lebih total dan membiarkan ruh mu dalam Kuasa tuhanmu..relakan saja...relakan saja..relakan saja...sampai ada bimbingan ruhani untuk memahami pengajaran ini...kali ini ruhmu masih belum kuat menerimanya..tapi biarkan saja...sampai tubuhmu berguncang keras...pertahankan saja ruhmu mengikatkan diri kepada Tuhan sekuat-kuatnya. jangan takut salah karena itu timbul dari keraguan pikiranmu sendiri..teruskan saja...sampai engkau berada dalam ghaibnya Ruhani menjadi nyata ....

Apabila engkau merasakan kesulitan dengan perjalanan ruhani, puasa ini membantu anda untuk membuka kesulitan perjalanan ruhani anda. Karena saat puasa hawa nafsu agak sedikit mudah dikendalikan. Hawa nafsu anda sedang melemah akibat tidak diberi kesempatan untuk aktif. Rasakan ketika nafsumu melemah, apa yang harus anda lakukan ??. Diamlah ..Ruhmu akan berjalan mendesir dengan cepat menuju Tuhanmu !!

Sekarang anda paham mengapa kita harus berpuasa....itulah jalan ruhani....engkau diajarkan langsung oleh Allah...agar engkau  mampu menemukan dirimu sehingga engkau mampu berada disisi Yang Maha Agung dengan sebenarnya.
Bagi yang tidak paham, kata Nabi ia hanya berkutat dalam kelaparan dan kehausan yang dirasakan jasmaninya.....biarkan saja, jangan ikut-ikutan merasakan keluhan mereka yang tidak paham.

Lakukanlah.... menjadilah.... beradalah.... hilangkan rasa keberadaan badanmu... karena itu sumber nafsumu....lepaskan segera...karena ia begitu  kuat berapologize.... Jangan hiraukan segala alasan,  Terbanglah dengan cepat....
 ibarat balon udara yang terlepas dari ikatan ....
 ibarat sebuah benang terangkat dari sebuah adonan tepung....
 ibarat seorang waliyullah yang terpesona dengan wajah Allah.....
  
yang jiwanya tidak terikat oleh nafsunya.... ia mati raganya.... ia mati nafsunya.... ia sadar bahwa dirinya yang sebenarnya bukan badannya .... ia adalah makhluk ruhani .... yang tidak pernah makan dan tidur, ia tidak memerlukan materi untuk mendapat kebahagiaan...ia adalah ruh yang bukan berbahan dasar dari tanah....ia adalah cahaya
illahy yang akan berbahagia jika mampu melepaskan hawa nafsu tubuhnya.

Berpuasalah....berarti engkau akan melepaskan kesadaran badanmu yang tersusun dari ion-ion yang berasal dari tanah. Orang mengatakan menahan hawa nafsu....nafsu adalah dorongan tanah untuk kembali kepada tanah maka ia mencintai benda-benda yang terbuat dari unsur tanah.....
Puasa adalah melepaskan segala dorongan Al hawa' tubuh anda...berarti anda harus mati ing sajeroning urip..yaitu mematikan dorongan nafsu anda.  Sekarang!! .....maka engkau akan menemukan diri yang tidak mati !! Yang tetap hidup disisi Tuhan......itulah Para Pejalan menuju Tuhan..fi sabilillah....

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalanAllah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya.(Al Baqarah,154)
 Wahai para pejalan yang tidak ada henti-hentinya engkau berupaya menuju Tuhan dengan bersungguh-sungguh, pasti engkau berhasil !!
 Hai manusia, Sesungguhnya kamu Telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, Maka pasti kamu akan menemui-Nya ( QS. Al Insyiqaaq:6)
 Sekarang engkau paham, siapa yang menghalangi jiwamu untuk menuju Tuhan.......tubuh inilah yang harus diredam agar engkau menemukan kembali jalan kepulanganmu......ya huuu Allah ...ya huuAllah........kembalilah dengan tenang....

Duduklah dengan tenang, biarkan tubuh anda meluruh...biarkan ruhani anda menguasai tubuh anda...perhatikan tubuh anda...setelah anda duduk beberapa lama, coba anda rasakan ....reaksi dari tubuh anda akan terasa mulai penat, mulai gelisah ingin menyelesaikan dan mempercepat keluar dari duduk anda menghadap Tuhan....biarkan saja...jangan engkau hiraukan, karena itu nafsu yang berasal dari dorongan tubuh anda...terkadang tubuh anda mulai meminta untuk tidur....pertahankan jangan sekali-kali anda menurutinya...sebab ruhani anda akan terkalahkan lagi....jika anda berhasil mengalahkan dorongan tubuh anda....anda termasuk golongan orang yang memahami jalan ruhani....

Pada awalnya memang berat, tetapi kali ini saja kesempatan anda untuk berpuasa dengan sebenarnya. Jangan terkalahkan oleh dorongan (chartexis) id anda, jangan harap anda mampu memahami puasa jika anda masih belum mampu duduk dalam kesadaran ruhani yang berjalan tanpa ikatan jasmaniah. Praktekan pada siang hari, terutama ketika menjelang maghrib.....maka malamnya anda akan memahami tentang I'tikaf, membaca Al qur'an, shalat tarawaih dan qiyamullail. Ingat !! berpuasa bukan dimalam hari, tetapi di siang hari.......hasilnya akan terasa dimalam hari .....
Wahai kawan yang sudah memahami keberadaan jiwa diatas nafsu, engkau pasti merasakan bahwa jiwamu hanya menjadi saksi keadaan hatimu yang gelisah maupun bahagia. Engkau benar-benar tenang yang sangat luar biasa, yang berbeda dengan tenang yang pernah engkau rasakan selama ini. Tenang dan bahagia yang selama ini masih berasal dari rekayasa pikiranmu sendiri dan terjadi oleh sebab akibat.

Ibarat seorang yang telah menentukan pilihannya terhadap team sepakbola kesayangannya. Jika ia memilih salah satunya, bisa dipastikan anda akan mendapatkan kemungkinan perasaan bahagia jika menang dan kesedihan yang luar biasa jika team anda kalah. Bahagia yang sejati adalah jika engkau tidak berpihak terhadap keduanya. Maka engkau telah memasuki wilayah yang bukan perasaan…engkau telah berada dalam hakikat jiwa. Yaitu jiwa yang tidak berada dalam perasaan akan berada dalam tuntunan Illahi yang sebenarnya. Cobalah anda perhatikan perasaan anda, mengapa ada sedih dan senang….kalau sedih..karena apa  ? ,kalau senang...karena apa ? ya… pasti oleh karena apa atau sesuatu !! itulah perasan hasil mindset anda !! bukan perasaan yang hakiki , itulah tipuan atau ghurur !!

Sekarang , engkau berada diatas itu semua….ituah jiwa yang tenang !! jiwa yang murni yang juga dimiliki oleh Fir’aun…disaat Fir’aun ditenggelamkan ditengah laut..maka hati yang sombong hancur, nafsunya yang kuat menjadi lebur..tinggallah jiwa yang murni, yang akhirnya ia mampu berkata amantu birabbi Musa dan Harun !!! di dalam tubuh Fir’an ada kemurnian hakiki yang tidak pernah muncul jika badannya masih mendominasi jiwanya. Sekarang…tenggelamkan nafsu Fir’aunmu agar engkau mampu berkata secara murni.
 “ Amantu billahi Rabba ….."tanyakan kepada pelacur…apa kata jiwa murninya…ia pasti akan berkata “ aku telah melakukan kemaksyiatan terhadap Tuhanku”,  tanyakan kepada jiwa para koruptor “ya aku telah melakukan kebohongan dan pencurian uang rakyatku“.  Dan tanyakan pada jiwamu yang murni …siapakan dirimu yang sejati ??

"Aku adalah Ruh Suci yang sekarang sedang dibangkitkan dengan penghacuran hawa nafsuku dengan berpuasa."   Akulah Ruh milik Allah yang akan selalu berbakti kepada Allah, yang tidak pernah menolak kebenaran yang diturunkan oleh Tuhanku.  Maka Jiwamu akan dipanggil langsung oleh Allah dengan perkataan wahai jiwa yang tenang..kembalilah kepada Tuhanmu dengan Rela dan diridhai-Nya…..
dan sekarang rasakan ….  relakan saja jiwa ditarik oleh Allah untuk kembali kepada-Nya. Jangan menolak dan jangan takut …  itulah tempat engkau pulang, baik sekarang maupun nanti..mengapa harus menunggu dipaksa mati ….!!

Wahai kawan yang sudah memahami keberadaan jiwa diatas nafsu, engkau pasti merasakan bahwa jiwamu hanya menjadi saksi keadaan hatimu yang gelisah maupun bahagia. Engkau benar-benar tenang yang sangat luar biasa, yang berbeda dengan tenang yang pernah engkau rasakan selama ini. Tenang dan bahagia yang selama ini masih berasal dari rekayasa pikiranmu sendiri dan terjadi oleh sebab akibat.Ibarat seorang yang telah menentukan pilihannya terhadap team sepakbola kesayangannya. Jika ia memilih salah satunya, bisa dipastikan anda akan mendapatkan kemungkinan perasaan bahagia jika menang dan kesedihan yang luar biasa jika team anda kalah. Bahagia yang sejati adalah jika engkau tidak berpihak terhadap keduanya. Maka engkau telah memasuki wilayah yang bukan perasaan…engkau telah berada dalam hakikat jiwa. Yaitu jiwa yang tidak berada dalam perasaan akan berada dalam tuntunan Illahi yang sebenarnya. Cobalah anda perhatikan perasaan anda, mengapa ada sedih dan senang….kalau sedih..karena apa  ? ,kalau senang...karena apa ? ya… pasti oleh karena apa atau sesuatu !! itulah perasan hasil mindset anda !! bukan perasaan yang hakiki , itulah tipuan atau ghurur !!
                   
Majelis Raboan,
Wahai kawan, malam ini engkau berada pada wilayah yang sama dengan Iblis dan Malaikat. Yaitu pada wilayah makrifat dan keimanan terhadap Tuhan. Namun makrifatmu masih pada tahapan angan-angan dan sangkaan atau dhan, bukan  makrifat sesungguhnya. Bandingkan dengan makrifat dan keimanannya para iblis terhadap Allah. Mereka yang pertama kali diajak berbicara oleh Allah mengenai penciptaan manusia. Berarti mereka sangat akrab dengan tuhannya. Mereka sangat mengenal malaikat dengan sebenar-benarnya, karena mereka adalah sahabat-sahabat dalam berspiritual dan berketuhanan. Mereka sangat mengenal keadaan seluk beluk taman syurga dengan sebenarnya. Karena mereka  pernah menjadi penghuninya bersama Adam dan Hawa. Mereka sangat tahu bahwa Allah adalah sumber kekuatan atas segala kekuatan. Oleh karena itu mereka selalu memohon pertolongan untuk menggoda manusia yang menjadi musuhnya. Mereka sangat percaya adanya hari kiamat, sehingga mereka memohon ditangguhkan kematiannya sampai hari dibangkitkan nanti.

Kawan .... dimanakah kedudukanmu pada saat ini, masihkan kalian merasa lebih baik dari Iblis atas segala makrifatnya, atas segala kepercayaan kalian kepada Allah.  Renungkan !! imanmu kepada Allah,imanmu terhadap adanya Malaikat, imanmu adanya syurga,imanmu adanya hari Kiyamat, masih pada tahapan percaya , bukan iman yang sebenarnya. Sehingga engkau disebut wajibul iman . Sedangkan
keimanan Iblis mengetahui keadaan yang sebenarnya  sehingga  disebut 'ainul iman serta isbatul Iman.  
Dalam kondisi ini, malaikat dan iblis mulanya berada pada wilayah yang sama. Akan tetapi pada detik-detik hilangnya diri dan akalnya, Malaikat mulai menghilang dari frekwensi makrifat rendah menuju dimensi makrifat keruhanian yang lebih tinggi.  Dan Iblis telah kehilangan sahabat karib dalam bermakrifat kepada Allah untuk selamanya. Karena iblis tidak mampu melampaui rahasia yang telah dilakukan oleh Malaikat. Malaikat mampu masuk dengan ketidak tahuannya, karena ia mendegarkan wejangan Allah, inni a'alamu maa la ta'lamuun.

Wahai kawan ..kita telah lama berkumpul menjalani kemakrifatan dengan laku tirakat yang cukup lama.Hampir seluruh hidupmu tersita dalam dudukmu bermakrifat dengan segala macam permasalahan ruhanimu. Dan malam ini , saat detik-detik menentukan memasuki Sirrul Asraar sebagaimana para malaikat meninggalkan Iblis.......Rahasia didalam Rahasia ...yang Iblis tidak akan mampu mengawalmu dalam makrifatmu !! Rahasianya telah kita ketahui bersama, iblis tetap tidak mampu menanggalkan dimensi dirinya yang sangat kuat. Padahal Allah telah memanggilnya untuk memasuki wilayah tertinggi dari makrifatnya. Wahai Iblis ........masuklah kalian pada wilayah malaikat-Ku karena engkau telah berada dalam makrifat yang hakiki terhadap DIRIKU. Allah memberi wejangan terakhirnya kepada Iblis.........tanggalkan pengetahuan rendahmu mengenai rencana-Ku dalam menciptakan Khalifah-Ku. Masuklah dalam Rahasia-Ku. Pengetahuanmu mengenai manusia hanya pada wilayah fisik, bukan pada Ruhnya yang tinggi, yang Aku ciptakan sebagai Rahasia pribadi-Ku. Kalian hanya mampu menduduki wilayah fisiknya, bukan Ruhnya yang berada dekat dengan Ruh-Ku. Yang engkau tidak akan mampu menaiki wilayah ini. Karena engkau terhalang oleh dirimu yang selalu mengagungkan diri . Dan engkau akan berhenti selamanya pada wilayahmu yang engkau anggap telah makrifat atas DIRIKU.
Kawan ...kita juga telah bersusah payah sebagaimana iblis mengenal Allah, akankah kita akan terhalang sebagaimana mereka ? lihat lah para malaikat, mereka mampu memasuki yang lebih tinggi hanya dengan ketidaktahuannya, dengan ketidakfahamannya, dengan kepatuhannya atas apa yang dilakukan Tuhannya.

Lalu dengan apa kita mampu memasuki wilayah yang lebih tinggi ? ingatlah sejarah keberadaan diri kita dalam rahim ibu. Pada detik-detik Allah menyempurnakan penciptaan diri kita, ruh telah ditiupkan kedalam tubuh ini. Allah telah ridha atas keberadaan diri kita, namun Ridha Allah menunggu Ridha kedua orang Tuamu untuk merelakan  keluar dari alam rahim yang bersih suci. Detik-detik ini berlaku pada tingkat kesucian ruhmu dalam makrifatmu, Allah telah meridhaimu dan menunggumu, namun beliau menunggu jawaban ridha ibumu yang dimuliakan Allah. ....lakukan dan doakan ibumu ...sehingga Allah ridha ......sehingga engkau hilang dalam tarikan Allah yang sangat kuat tanpa hambatan .........irji'I ila rabbiki radhiayatan mardhiyyah ...

Dan Iblispun mengadu kepada Allah : Rabbi fa bi 'izzatika la ughwiyanahum ajmain illa 'ibadaka minhumul mukhlashin ....wahai tuhanku ...demi kekuasaan-Mu aku akan menggoda seluruh manusia, kecuali hamba-hamba-Mu yang berserah diri. ......selamat tinggal Iblis !! jangan engkau bersedih karena disana masih banyak manusia yang bermakrifat seperti makrifatmu, itulah kawan kalian 

Catatan :
Tulisan ini penulis tampilkan sebagai bahan renungan dan inspirasi untuk kita semua, Penulis sarankan untuk tidak memperaktikkannya terlebih dahulu tanpa bimbingan seorang guru ( Mursyid ) yang benar-benar memahami tentang hakikat seorang hamba terhadap Rab-nya. Wallohu a'lam.

Kamis, 05 Januari 2012

SHALAT TASBIH

Shalat Sunnat Tasbih disebut demikian karena di dalamnya dibacakan tasbih,  sehingga dalam 4 (empat) rakaat berjumlah 300 (tiga ratus) tasbih. Shalat Tasbih ini sangat dianjurkan oleh Rosulullah SAW untuk diamalkan, kalau bisa setiap malam, kalau tidak bisa tiap malam maka sekali seminggu, kalau juga tidak sanggup sekali seminggu, dapat juga dilakukan sebulan sekali atau setahun sekali dan kalau tidak bisa sekali setahun, setidak-tidaknya sekali seumur hidup.

Rosulullah SAW bersabda :
“Hai Abbas ! Wahai paman ! Sukakah kamu apabila aku beri, maukah kamu apabila aku pameri, bolehkan (kiranya) aku memberi petunjuk kepadamu yaitu : Sepuluh hal yang penting, yang apabila kamu lakukan akan diampuni Allah dosamu, yang awal dan yang akhir, yang lama dan yang baru, yang disengaja maupun tidak, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang nyata. Sepuluh hal yang penting yaitu : Agar kamu melakukan Shalat empat rakaat, membaca dalam tiap-tiap rakaat surah Al-Fatihah dan surah lainnya apa saja, apabila selesai dari yang dibaca itu (yakni surah), dalam rakaat pertama, bacalah dalam berdiri “Subhanallahi wal hamdulillahi walaa ilaaha illallaahu wallaahu akbar”, lima belas kali lalu ruku’ dan bacalah kamu dalam ruku’ sepuluh kali tasbih. Lalu angkat kepalamu dari ruku’ (I’tidal) dan bacalah tasbih sepuluh kali. Lalu turun bersujud dan bacalah dalam sujud sepuluh kali tasbih. Lalu angkat kepalamu dari sujud (duduk antara dua sujud) dan bacalah sepuluh kali tasbih. Lalu sujud lagi dan ucapkanlah sepuluh kali tasbih. Lalu angkat kepalamu (dari sujud) dan ucapkanlah sepuluh kali tasbih. Ini jumlahnya tujuh puluh lima dalam tiap-tiap satu rakaat. Apabila kamu dapat melakukan shalat ini dalam sehari sekali maka lakukanlah, dan apabila tidak maka dalam tiap-tiap jum’at sekali. Apabila tidak dapat maka dalam sebulan sekali, apabila tidak dapat maka dalam seumur hidup sekali. (HR. Ibnu Majah)

Saudaraku, sesama Muslim.                                                                                                             
Shalat Sunnat Tasbih kalau dikerjakan pada siang hari hendaklah dikerjakan 4 (empat) rakaat dengan satu salam. Tetapi apabila dikerjakan pada malam hari hendaklah 4 (empat) rakaat itu dijadikan 2 (dua) salam. Sesuai yang diterangkan oleh Rosulullah SAW : “Shalat malam itu, dua-dua.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Tata Cara Shalat Tasbih

1.      Mengucapkan niat Shalat Sunnat Tasbih : 
            a) Siang, 4 rakaat (langsung) : Ushalli sunnatattasbiih arba’a roka’aatiin lillaahii ta’ala
            b) Malam, 2 rakaat-2 rakaat :  Ushalli sunnatattasbiih rok’atayni lillaahii ta’ala
2.      Berdiri lurus menghadap kiblat, lantas ucapkan niat. Setelah Al-Fatihah pada rakaat pertama, maka bacalah Tasbih 15 kali dengan tasbih sebagai berikut :
            Subhaanallaahi wal hamdulillaahi walaa ilaaha illallaahu wallaahu akbar
            “Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali
            hanya Allah yang Maha Besar.”
       3.  Ketika Ruku’, setelah bacaan ruku’ bacalah tasbih 10 kali.
       4.  Ketka I’tidal, setelah membaca do’a I’tidal, bacalah tasbih 10 kali.
       5.  Ketika sujud, setelah bacaan sujud, bacalah tasbih 10 kali.
       6.  Ketika duduk antara dua sujud, setelah membaca bacaan duduk antara dua sujud, bacalah
            tasbih 10 kali.
       7.  Ketika sujud yang kedua, setelah bacaan sujud, bacalah tasbih 10 kali.
       8.  Pada sujud kedua setelah selesai membaca tasbih 10 kali, lantas sebelum berdiri ke rakaat
            kedua, hendaknya duduk istirahat lalu sambih duduk istirahat itu membaca tasbih 10 kali.

Demikian pelaksanaan pada rakaat pertama, yang apabila dihitung bacaan tasbihnya berjumlah 75 kali, kalau dikerjakan 4 rakaat, menjadi : 75 x 4 = 300 tasbih.

Dikutip dari “FIQIH” Oleh : Drs. H. Moh. Rifai,  “RAHASIA SHALAT SUNNAT”  Oleh : A Manan  “KUMPULAN SHALAT SUNNAT” Oleh : A. Aminudin. Dapat juga dilihat di website www.hajisunaryo.com)

Senin, 02 Januari 2012

ADIL TERHADAP WAKTU

Ambillah waktu untuk berpikir, itulah sumber kekuatan.
 
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi.
 
Ambillah waktu untuk berdo’a, itu adalah sumber ketenangan.
 
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan.
 
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Allah
 
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagian
 
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati.
 
Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup berarti.
 
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan.
 
Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.

Sabtu, 31 Desember 2011

BENARKAH DZIKIR BERJAMA’AH ITU BID'AH ?

Dzikir berjama’ah menurut al-Qur’an dan as-Sunnah


وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلاَ تــَـعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” [QS. Al-Kahfi: 28]

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan sbb:
وقوله "واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي يريدون وجهه" أي اجلس مع الذين يذكرون الله ويهللونه ويحمدونه ويسبحونه ويكبرونه ويسألونه بكرة وعشيًا من عباد الله سواء كانوا فقراء أو أغنياء أو أقوياء أو ضعفاء يقال إنها نزلت في أشراف قريش حين طلبوا من النبي صلى الله عليه وسلم أن يجلس معهم وحده ولا يجالسهم بضعفاء أصحابه كبلال وعمار وصهيب وخباب وابن مسعود وليفرد أولئك بمجلس على حدة فنهاه الله عن ذلك

Firman Alloh: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya” yakni duduk bersama org yg berdzikir, bertahlil, bertahmid bertasbih, bertakbir dan bermohon kpd Alloh di waktu pagi dan sore dari hamba Alloh baik yg fakir atau kaya, yg kuat atau yg lemah. Dikatakan sesungguhnya ayat ini turun berkenaan dgn pembesar2 Quraisy yg menghendaki agar Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam duduk bersama mereka saja dan tdk duduk bersama mereka org2 yg lemah dari para sahabat seperti Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir, Suhaib, Khabbab dan Ibnu Mas’ud. Dan agar supaya mereka dibuatkan majlis khusus [tdk bercampur dgn mereka pembesar Quraisy-pent], maka Alloh melarang perbuatan itu.

وأخرج ابن جرير والطبراني وابن مردويه، عن عبد الرحمن بن سهل بن حنيف قال: نزلت على رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو في بعض أبياته {واصبر نفسك مع الذين يدعون ربهم بالغداة والعشي} فخرج يلتمسهم فوجد قوما يذكرون الله، فيهم ثائر الرأس وجاف الجلد وذو الثوب الواحد، فلما رآهم جلس معهم وقال: "الحمد لله الذي جعل في أمتي من أمري أن أصبر نفسي معهم".
وأخرج البزار عن بي هريرة وأبي سعيد قالا: جاء رسول الله صلى الله عليه وسلم رجل يقرأ سورة الحجر وسورة الكهف، فسكت فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "هذا المجلس الذي أمرت أن أصبر نفسي معهم".

Dari ‘Abd al-Rahman bin Sahl bin Hanif, ia berkata: Pada suatu saat, ketika Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam berada di salah satu rumahnya, turunlah ayat kepada beliau, yang ertinya: “Dan bersabarlah kamu bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keredhaan-Nya.” (Surah al-Kahfi: 28), Maka setelah menerima wahyu itu, Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam keluar untuk mencari orang-orang yang dimaksudkan dalam ayat tersebut. Kemudian beliau menjumpai sekelompok orang yang sedang sibuk berzikir. Di anatara mereka ada yang rambutnya tidak teratur dan kulitnya kering, dan ada yang hanya memakai sehelai kain. Ketika Rasulullah s.a.w. melihat mereka, beliau pun duduk bersama mereka dan bersabda, yang artinya: “Segala puji bagi Allah, yang telah menciptakan di antara umatku orang-orang yang mernyebabkan aku diperintahkan duduk bersama mereka.” (HR. Thabrani, Ibn Jarir dan Ibn Mardawaih)

Dari Abu Hurairah ra. dan Abi Sa’id ra. berkata, Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam datang disaat seorang laki-laki membaca surat Al-Hijr dan Al-Kahfi. Maka Rosululloh terdiam lalu bersabda, “Inilah majelis yg aku diperintahkan agar bersabar berkumpul bersama mereka [majelis dzikir-pent].” [HR. Al-Bazzar]

- (2675) حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ - وَاللَّفْظُ لِقُتَيْبَةَ - قَالَا: حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: «أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي، إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ، ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا، تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا، تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً» [روه مسلم]

.........Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jema’ah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (HR. Muslim (2675/4832)

وعن أبي هريرة قال قَالَ رَسُوْل اللهِ صَلًَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمََ: إن لله ملائكة يطوفون في الطرق يلتمسون أهل الذكر فإذا وجدوا قوما يذكرون الله عز وجل تنادوا هلموا إلى حاجتكم قال فيحفونهم بأجنحتهم إلى السماء الدنيا قال فيسألهم ربهم وهو أعلم منهم ما يقول عبادي قال يقولون يسبحونك ويكبرونك ويحمدونك ويمجدونك قال فيقول عز وجل هل رأوني قال فيقولون لا والله ما رأوك قال فيقول كيف لو رأوني قال يقولون لو رأوك كانوا أشد لك عبادة وأشد لك تمجيدا وأكثر لك تسبيحا قال فيقول فما يسألوني قال يسألونك الجنة قال يقول وهل رأوها قال فيقولون لا والله يا رب ما رأوها قال يقول فكيف لو رأوها قال يقولون كانوا أشد عليها حرصا وأشد لها طلبا وأعظم فيها رغبة قال فمم يتعوذون قال يقولون من النار قال يقول وهل رأوها قال فيقولون لا والله يا رب ما رأوها قال يقول فكيف لو رأوها قال يقولون كانوا أشد منها فرارا وأشد لها مخافة قال فيقول فأشهدكم أني قد غفرت لهم قال يقول ملك من الملائكة فيهم فلان ليس منهم إنما جاء لحاجة قال فيقول الله تعالى هم الجلساء لا يشقى زبهم جليسهم. [رواه البخاري ومسلم والترمذي]

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah mempunyai malaikat yang berterbangan di seluruh pelusuk bumi untuk mencari dan menulis amal baik manusia. Apabila mereka menjumpai sekumpulan manusia berzikir kepada Allah lalu mereka menyeru sesama mereka: “Marilah ke sini, kita telah menemui apa yang kita cari.” Lantas mereka datang berduyun-duyun sambil menghamparkan sayap menaungi orang-orang yang sedang berdzikir itu.

Selepas itu lalu Allah bertanya kepada para malaikat, “Apakah yang sedang dilakukan hamba-hamba-Ku itu ketika kamu meninggalkan mereka?” Malaikat menjawab, “Mereka di dalam keadaan memuji, mengagungkan dan bertasbih kepada-Mu wahai Allah.” Allah bertanya lagi, “Adakah mereka itu pernah melihat-Ku?” Jawab malaikat, “Tidak pernah!” Allah terus bertanya, “Bagaimana sekiranya mereka melihatKu?” Jawab malaikat, “Jika mereka melihat-Mu, nescaya akan bersangatanlah mereka mengagungkan, bertasbih dan bertahmid kepada-Mu ya Allah.”
Allah bertanya lagi, “Mereka memohon perlindungan-Ku daripada apa?” Malaikat menjawab, “Daripada neraka.” Allah bertanya, “Adakah mereka pernah melihat neraka?” Jawab malaikat, “Tidak pernah!” Allah bertanya, “Bagaimana sekiranya mereka dapat melihat neraka?” Malaikat menjawab, “Mereka akan lari sejauh-jauhnya dari neraka kerana ketakutan.” Allah bertanya, “Apakah permintaan mereka?” Malaikat menjawab, “Mereka meminta daripadaMu syurga.” Allah bertanya, “Adakah mereka pernah melihat syurga?” Jawab malaikat, “Tidak pernah.” Allah bertanya, “Bagaimana sekiranya mereka dapat melihat syurga?” Malaikat menjawab, “Mereka sangat haloba untuk memperolehinya,” Lalu Allah berkata, 
“Sesungguhnya aku bersaksi, bahawa aku telah mengampunkan mereka.”
Para malaikat bertanya pula, “Wahai Allah! Seseorang telah datang ke dalam kumpulan ini dan dia tidak bercita-cita untuk menjadi sebahagian daripada mereka.” Allah menjawab, “Mereka ini adalah segolongan manusia yang tidak menyakiti orang yang menyertai mereka.” (HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

- (3375) - - حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ قَالَ: حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ حُبَابٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ، فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، قَالَ: «لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ» : «هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الوَجْهِ» [روه الترمذى] [حكم الألباني] : صحيح

......Dari Abdulloh bin Yasar ra. Sesungguhnya seorang lelaki berkata: Ya Rosulalloh, sesungguhnya syaria’at islam sungguh sangatlah banyak menurutku, maka kabarkanlah kepadaku sesuatu yg simpel. Rosul bersabda, “Basahilah selalu lisanmu dgn berdzikir kpd Alloh.” [HR. Tirmidzhi hadits hasan ghorib yg dishohihkan Al-Bani]

) -3378 (- حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ الأَغَرِّ أَبِي مُسْلِمٍ، أَنَّهُ شَهِدَ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ، وَأَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: «مَا مِنْ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا حَفَّتْ بِهِمُ المَلَائِكَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ» . حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ قَالَ: حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، قَالَ: سَمِعْتُ الأَغَرَّ أَبَا مُسْلِمٍ، قَالَ: أَشْهَدُ عَلَى أَبِي سَعِيدٍ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ مِثْلَهُ. هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ [روه الترمذى] [حكم الألباني] : صحيح

.......Dari Abu Hurairah ra dan Abu Sa’id Al-Khudzri ra. Sesungguhnya keduanya bersaksi atas sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda, “Tidaklah duduk sekelompok org yg berdzikir kpd Alloh kecuali mereka dikelilingi oleh para malaikat, dianegerahi rohmat. Diberikan ketenteraman serta senantiasa diingat [diperhatikan dan dibanggakan-pent] oleh Alloh dihadapan para malaikat-Nya.”............
. [HR. Muslim dan Tirmidzi hadits hasan shohih dan dishohihkan Al-Bani]

Dzikir dgn suara jahr [keras] menurut al-Qur’an, Hadits dan para ulama

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالآصَالِ وَلا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” [QS. Al.A’raaf: 205]

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الأسْمَاءُ الْحُسْنَى وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا

“Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaulhusna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" [QS. Al-Israa’: 110]

Tafsir Jalalain menjelaskan [QS. Al.A’raaf: 205] sbb:

(واذكر ربك في نفسك) أي سراً (تضرعاً) تذللاً (وخيفةً) خوفاً منه (و) فوق السر (دون الجهر من القول) أي قصداً بينهما (بالغدو والآصال) أوائل النهار وأواخره (ولا تكن من الغافلين) عن ذكر الله

(Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu) yakni sirr (dengan merendahkan diri) merendah (dan rasa takut) takut dari siksa-Nya (dan) diatas sirr [suara lirih] (tidak mengeraskan suara) yakni antara pelan dan keras [sedang] (di waktu pagi dan petang) pagi dan sore hari (dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu) dari mengingat Alloh [berdzikir].

Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan [QS. Al-Israa’: 110] sbb:

وقوله "ولا تجهر بصلاتك" الآية. قال الإمام أحمد حدثنا هشيم حدثنا أبو بشر عن سعيد بن جبير عن ابن عباس قال نزلت هذه الآية ورسول الله صلى الله عليه وسلم متوار بمكة "ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها" قال كان إذا صلى بأصحابه رفع صوته بالقرآن فلما سمع ذلك المشركون سبوا القرآن وسبوا من أنزله ومن جاء به قال: فقال الله تعالى لنبيه صلى الله عليه وسلم "ولا تجهر بصلاتك" أي بقراءتك فيسمع المشركون فيسبون القرآن "ولا تخافت بها" عن أصحابك فلا تسمعهم القرآن حتى يأخذوه عنك "وابتغ بين ذلك سبيلا" أخرجاه في الصحيحين

Dan firman Alloh, “dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu” Imam Ahmad berkata, Hasyim dan Abu Basyar berkata kepadaku dari Sa’id bin Jabir dari Ibnu Abbas ra. berkata, “Turun ini ayat sewaktu Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam berada di Makkah. “dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya,” Ibnu Abbas berkata, “ Adalah ketika Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam sholat bersama sahabatnya mengeraskan suaranya dalam membaca ayat al-Qur’an. Maka ketika hal itu didengar org2 musyrik mereka mencaci al-Qur’an, mencaci org yg diturunkan al-Qur’an [Nabi], dan yg menurunkannya [Alloh]. Ibnu Abbas berkata, “ Maka Alloh berfirman kpd Nabi-Nya Shollallohu ‘alaihi wa sallam “dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu” yakni bacaan al-Quranmu didengar org2 musyrik dan mereka mencacinya. “dan janganlah pula merendahkannya” dari sahabat2mu sehingga mereka tdk mendengar bacaan al-Quran sehingga mereka bisa mengambil pelajaran darimu. “dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" [ suara sedang-pent] [HR. Bukhari Muslim]

اختلف الفقهاء في رفع الصوت بالذكر بعد الصلاة ، فمنهم من ذهب إلى أنه سنة ، ومنهم من كره ذلك وقال : إن النبي صلى الله عليه وسلم لم يداوم عليه وإنما فعله للتعليم ثم تركه .
عن أبي معبد مولى ابن عباس أن ابن عباس رضي الله عنهما أخبره أن رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة كان على عهد النبي صلى الله عليه وسلم ، وقال ابن عباس : كنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته . رواه البخاري ( 805 ) ومسلم ( 583 )

Ulama fikih berbeda pendapat tentang mengeraskan suara berdzikir selapas sholat. Sebagian mereka ada yg menganggap itu sunnah, dan sebagian memakruhkan hal itu dgn perkataan, “Sesungguhnya Nabi Shollallohu ‘alaihi wa salllam tdk melakukannya terus menerus, sesungguhnya Rosul melakukannya hanya unt mengajari dan kemudian meninggalkannya.
Dari Ma’bad majikan Ibnu Abbas sesungguhnya Ibnu Abbas ra.. mengabarkan keduanya tentang mengeraskan suara dgn dzikir selepas org2 selesai sholat maktubah [sholat lima waktu] sudah ada semasa Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Dan Ibnu Abbas ra berkata, “Aku lebih mengetahui ketika mereka selesai sholat sehingga aku mendengarnya.” [HR. Bukhari (805) Muslim (583)]

فممن ذهب إلى رفع الصوت بالذكر بعد الصلاة : الطبري وابن حزم وشيخ الإسلام وغيرهم .وممن ذهب إلى أن ذلك كان للتعليم : الشافعي والجمهور .
قال الشافعي رحمه الله : " وأختار للإمام والمأموم أن يذكر الله بعد الانصراف من الصلاة ، ويخفيان الذكر إلا أن يكون إماماً يجب أن يُتعلم منه فيجهر حتى يرى أنه قد تُعلم منه ، ثم يسر ؛ فإن الله عز وجل يقول ( ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها ) يعنى – والله تعالى أعلم - : الدعاء ، ( ولا تجهر ) ترفع ، ( ولا تخافت ) حتى لا تُسمع نفسك .
وذكرتْ أم سلمة مكثه ولم تذكر جهراً ، وأحسبه لم يمكث إلا ليذكر ذكراً غير جهر " انتهى من "الأم" (1 /127) .
وقال ابن حزم رحمه الله : " ورفع الصوت بالتكبير إثر كل صلاة حسن " انتهى من "المحلى" (3 /180) .

Diantara ulama yg sepakat dgn mengeraskan suara dlm berdzikir selesai sholat adalah Ath-Thobari, Ibnu Hazm, Syaikhul islam Ibnu Taimiyah dan yg lainnya. Dan ulama yg sepakat bhw suara keras itu hanya unt mengajarkan adalah Imam Syafi’i dan jumhur ulama.
Imam Syafi’i berkata rohimahulloh: Dan yg terpilih untuk imam dan makmum adalah agar berdzikir kpd Alloh setelah selesai sholat, dan merendahkan suara dlm berdzikir kecuali imam ingin agar diketahui [diikuti makmum] maka mengeraskannya sehingga diketahui apa yg telah diajarkan, kemudian tdk memperdengarkannya. Karena sesungguhnya Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman (dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya) yakni Alloh Ta’ala lbh mengetahui do’a (dan janganlah kamu mengeraskan) meninggikan suara (dan janganlah pula merendahkannya) sehingga dirimu sendiri tdk mendengar.

Ummu Salamah menyebutkan bhw Rosul berdiam dan tdk berdzikir dgn suara keras, dan menyangkanya Rosul tdk diam [bersuara] kecuali unt memperingatkan bahwa dzikir itu tdk dgn suara keras. [Al-Uum 1/127]

Ibnu Hazm rohimahulloh berkata, “Mengeraskan suara kalimat takbir selesai sholat adalah perbuatan baik [Al-Mahalli 3/180]

ونقل البهوتي في "كشاف القناع" (1/366) عن شيخ الإسلام ابن تيمية استحباب الجهر : " ( قال الشيخ [أي ابن تيمية] : ويستحب الجهر بالتسبيح والتحميد والتكبير عقب كل صلاة " .
وسئل الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله عن حكم المسألة فأجاب :

" الجهر بالذكر بعد الصلوات المكتوبة سنة ، دل عليها ما رواه الإمام أحمد وأبو داود . وفي الصحيحين من حديث المغيرة بن شعبة رضي الله عنه قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول إذا قضى الصلاة : ( لا إله إلا الله وحده لا شريك له ..) الحديث . ولا يُسمع القول إلا إذا جهر به القائل .
وقد اختار الجهر بذلك شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله وجماعة من السلف والخلف ، لحديثي ابن عباس ، والمغيرة رضي الله عنهم . والجهر عام في كل ذكر مشروع بعد الصلاة سواء كان تهليلا ، أو تسبيحا ، أو تكبيرا ، أو تحميدا لعموم حديث ابن عباس ، ولم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم التفريق بين التهليل وغيره بل جاء في حديث ابن عباس أنهم يعرفون انقضاء صلاة النبي صلى الله عليه وسلم بالتكبير ، وبهذا يُعرف الرد على من قال لا جهر في التسبيح والتحميد والتكبير .

Al-Bahuti mengatakan dlm “Kasyaf Al-Qana’” (1/366) dari Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menyukai dzikir jahr...” Syeikh Ibnu Taimiyah berkata, “Dan disukai bersuara kera dlm bertasbih, bertahmid dan bertakbir selesai sholat.”

Syeikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin ditanya tentang hukum suatu pertanyaan [tentang dzikir] maka menjawabnya: “Dzikir dgn suara keras selepas sholat maktubah hukumnya sunnah, petunjuk akan kesunnahannya adalah hadits yg diriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Daud dalam hadits shohihnya dari hadits Al-Mughiroh bin Syu’bah ra. berkata: Aku mendengar dari Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika selesai sholat (Laa ilaaha illalloh wahdahu laa syarika lah) Al-Hadits. Dan tdk bisa didengar itu ucapan kecuali ketika dikeraskan suara org yg mengucapkannya.”
Dan sungguh telah memilih dgn suara keras Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahulloh dan jama’ah ulama’ salaf dan kholaf, karena hadits Ibnu Abbas ra. dari Al-Mughiroh bin Syu’bah ra. Dan suara keras dlm berdzikir yg disyari’atkan itu bersifat umum sesudah sholat [wajib atau sunnat] sama saja itu tahlil, tasbih, takbiratau tahmid unt keumuman hadits dari Ibnu Abbas ra. yg tdk tertolak dari hadits Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam dgn membedakan antara tahlil dan yg lainnya, tetapi telah datang hadits dari Ibnu Abbas ra. sesungguhnya mereka [sahabat] mengetahui selesainya sholat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam dgn kalimat takbir, dan dgn ini diketahui penolakan terhadap org yg mengatakan bhw tasbih, tahmid dan takbir tdk dgn suara keras.

وقال رحمه الله : " فالمهم أن القول الراجح : أنه يسن الذكر أدبار الصلوات على الوجه المشروع ، وأنه يسن الجهر به أيضا - أعني رفع الصوت - ولا يكون رفعا مزعجا فإن هذا لا ينبغي ، ولهذا لما رفع الناس أصواتهم بالذكر في عهد الرسول عليه الصلاة والسلام في قفولهم من خيبر قال : ( أيها الناس ، أربعوا على أنفسكم ) ، فالمقصود بالرفع ، الرفع الذي لا يكون فيه مشقة وإزعاج " انتهى من "مجموع فتاوى الشيخ ابن عثيمين" (13/247، 261)

Maka Syeikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rohimahulloh berkata: “Maka sesungguhnya qaul [hujjah] yg rojih [kuat dan terpilih] adalah disunnahkan berdzikir selepas sholat lima waktu sesuai yg disyari’atkan, dan jg disunnahkan mengeraskannya, -aku maksudkan mengangkat suara [sedang]- dan tdk dgn suara yg terlalu keras itu tdk baik, karena hal ini ketika org2 mengeraskan suara dlm berdzikir dimasa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam waktu perjumpaan mereka di bukit khoibar Nabi bersabda, “Wahai manusia, pelankanlah [tahanlah] diri kalian.” Maka yg dimaksud [tidak] dgn suara keras, mengeraskan suara yg tdk diperlukan krn tdk ada halangan. [Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin 13/247-261]. Wallohu a’lam bish-Showab