Selasa, 28 Mei 2013

STRATEGI DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK



Tulisan ini merupakan kesimpulan yang dapat penulis  tangkap terhadap 9 dari  12 keseluruhan  pemakalah yang direncanakan akan memaparkan hasil penelitiannya tentang Pendidikan Agama Islam dalam membentuk karakter anak di Sekolah Dasar di Hotel Padjajaran Suites Bogor ( 27-29 Mei 2013 )
Strategi Dalam Membentuk Karakter Anak
Pertama: Memberikan pemahaman kepada anak sesuai dengan tingkat perkembangan (kemampuan) akalnya. Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Ali bin Abi Thalib ra., pernah bersabda:“Berbicaralah kepada manusia dengan sesuatu yang mereka ketahui. Apakah engkau suka jika Allah dan Rasul-Nya didustakan?“(HR Al-Bukhari).
Tujuannya adalah agar anak menyadari pentingnya memenuhi kebutuhan sendiri secara bertanggung jawab sesuai dengan perintah Allah Swt. Bukan melakukannya karena kebiasaan saja, takut terhadap orang tua, atau takut gagal jika tidak mandiri. Penyadaran dengan pemahaman tidak cukup dilakukan sekali. Orangtua harus sabar untuk terus membimbingnya dan disertai praktik mandiri pada anak.
Kedua: berbuatlah secara bijaksana. Dalam hal tertentu, jangan memaksa anak untuk berbuat sesuatu ataupun membiarkan anak berbuat sesuatu, kecuali sesuatu itu tidak membahayakan dirinya dan tidak menyimpang dari tata aturan Islam. Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra.:
“Kamu semua disuruh untuk berlaku manis dan bijaksana, bukan berlaku kasar dan mengundang kesulitan.“(HR al-Bukhari). Dengan cara demikian, naluri anak untuk berkembang dapat tersalurkan; pola intelektualitas, emosionalitas dan kreativitas anak juga akan tumbuh. Berbeda halnya dengan anak yang senantiasa dibatasi (restricted), naluri perkembangan psikologinya bisa menjadi tumpul. Akibatnya, anak akan bergantung pada orang lain dan tidak berprestasi.
Ketiga: memberikan kasih sayang secara wajar dalam perilaku, hadiah, maupun pujian. Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Abu Musa ra., pernah mendengar seorang laki-laki yang memuji seorang yang lain secara berlebihan. Lalu Beliau bersabda (yang artinya),
“Kamu telah mencelakakan orang itu!” (HR al-Bukhari). Kasih-sayang yang kurang ataupun berlebihan sama-sama memiliki dampak negatif bagi perkembangan anak. Jika kasih-sayang orangtua kurang, anak bisa menjadi “extrem kiri”: bandel, kasar, jahat, dan sebagainya. Sebaliknya, jika anak ’kelebihan’ kasih sayang, pola kepribadian anak akan menjadi “extrem kanan”: bersikap manja sehingga malas merawat dirinya, selalu minta dituruti kemauannya, dan sering mengendalikan orangtuanya.
Keempat: memberikan cara pendidikan secara tegas kepada anak. Dalam mendidik anak, orang tua harus memiliki sikap yang tegas dan tidak “plintat-plintut”. Di sinilah pentingnya ayah dan ibu seiring dan sejalan dalam mendidik anak. Ketidaksejalanan ayah dan ibu dalam mendidik anak akan membuat anak bersikap tidak konsisten sehingga sikap kemandirian anak tidak berkembang secara baik.
Kelima, ajarkan anak untuk selalu bergantung pada Allah SWT. Tanamkan pada anak bahwa semua kemudahan datangnya dari ALLAH SWT, dan kesulitan pun pasti ada pemecahannya dari ALLAH SWT.

Sabtu, 25 Mei 2013

KAJIAN TAFSIR SURAT AL-BAQARAH AYAT 31 - 33

1 

-
  Ayat 31 :
- Setelah Allah s.w.t menjadikan Adam a.s, lalu Allah mengajarnya akan nama-nama (الأسماء). Mengikut riwayat Ibn ‘Abbas, ‘Ikrimah, Qatadah dan Sa’id b. Jubayr rahimahumullah, mereka mengatakan bahawa Allah s.w.t mengilhamkan kepada Adam a.s semua nama-nama yang ada diatas muka bumi ini.
- Mengikut riwayat yang lain, nama-nama itu ialah nama-nama malaikat dan nama zuriat keturunan Adam a.s. Pendapat ini disokong oleh Abu Jaa’far Ibn Jarir al-Tobari didalam tafsirnya.
- Kemudian Allah s.w.t mengemukakan nama-nama tersebut kepada malaikat dan meminta agar malaikat memberitahu nama-nama tersebut sekiranya mereka ini benar dan betul.
  2- Ayat 32:
- Beginilah sifat malaikat yang merupakan hamba Allah yang mulia dan taat kepada Allah s.w.t yang mana apabila ditanya sesuatu perkara yang luar daripada pengetahuan mereka, mereka akan akur tidak mengetahuinya. Perkara sebegini tidak seperti sesetengah manusia yang kadang-kadang secara rambang memberitahu sesuatu perkara walaupun perkara tersebut tidak diketahui oleh mereka.
- Malaikat menyebut “maha suci Engkau wahai Tuhanku” yang bermaksud Tuhan yang maha suci daripada segala sifat kekurangan. Diantara sifat kekurangan itu ialah jahil (tidak mengetahui)
- Malaikat juga mengakui mereka tidak mempunyai ilmu melainkan apa yang di ajar oleh Allah s.w.t sahaja. Sifat sebegini sepatutnya disedari oleh manusia bahawa segala ilmu yang ada didunia ini kesemuanya adalah ilmu yang diajarkan oleh Allh s.w.t
- Jika sekiranya seseorang itu sedar bahawa ilmu yang ada padanya adalah kurniaan Allah s.w.t, maka dia belajar kerana Allah dan Allah akan member petunjuk kepadanya.
- Tetapi jika sekiranya, seseorang itu mempunyai ilmu sedangkan dia lupa kepada Allah s.w.t, ilmunya semakin lama semakin tidak berfaedah kepada beliau sehinggakan tidak dapat membezakan mana yang halal dan mana yang haram.
  3- Ayat 33:
- Berdasarkan ayat ini, segala yang telah dijadikan oleh Allah s.wt hendaklah semua makhluknya termasuklah malaikat dan manusia menerimanya dan menyerah diri kepada Allah s.w.t kerana Allah mengetahui segala apa yang zahir dan apa yang disembunyikan.
- Sebab itu apabila malaikat tidak bersetuju ketika mana Allah hendak mencipta Adam sebagai khalifah, maka ditempelak oleh Allah dengan mudahnya sekaligus menjadi satu dalil bahawasanya kita sebagai manusia tidak boleh bertanya mengapa Allah s.w.t menjadikan sesuatu atau apa sebab Allah s.w.t menghalalkan dan mengharamkan sesuatu kerana itu semua adalah dibawah pengetahuan Allah s.wt.
- Jangan kita menunjukkan diri kita mengetahui lebih daripada Allah s.wt. Yang menjadikan manusia ialah Allah s.wt dan begitu juga apa yang memberi manfaat mahupun mudarat adalah kesemuanya diketahui oleh Allah s.w.t. Oleh sebab itulah jangan kita bertanya tentang segala hukum yang telah Allah tuntutkan kepada manusia sepertimana firmanNya
لا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
Yang bermaksud: “tidak ditanya daripada apa yang ia jadikan tetapi mereka itulah yang akan ditanya”
- Jangan kita setelah tahu hikmahnya baru kita mahu percaya kepada hukum Allah tetapi sebaiknya kita hendaklah menyerah diri kepada Allah s.w.t setelah kita mengetahui bahawa Allah s.wt maha mengetahui tiap-tiap sesuatu sama ada yang tersembunyi apatah lagi yang zahir dan nyata sebagaimana sifat malaikat menyerah diri kepada Allah s.w.t dan itulah sifat yang mulia dan terpuji.

REFERENSI 
Al-Qurtuby, al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (1996), 
Dr. Wahbah al-Zuhayli dalam kitabnya Tafsir al-Munir, mk 135
Ibnu Katsir, Tafsir Alqur'a al-azhim
Mushtafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi


Jumat, 03 Mei 2013

Kisah Seorang Guru Dan Dua Orang Muridnya

Alkisah di sebuah pesantren di suatu negeri hidup seorang guru silat yang sangat bijak, dan sudah sangat tua. Ia mempunyai dua murid yang masing-masing memiliki tingkat ibadah, ketulusan, kejujuran, kesalehan, keseriusan, semangat, dan keuletan belajar silat yang sama. Untuk mewariskan pesantren dan perguruannya, ia harus memilih yang terbaik dari keduanya.

Pertandingan di antara mereka pun dilakukan. Namun, beberapa kali dilakukan pertandingan, musabaqah, adu kepandaian dan adu kekuatan selalu berakhir dengan seimbang. Mereka ternyata mampu menyerap ilmu yang sama dari sang guru. Selain itu, keduanya juga sering berlatih bersama-sama sehingga masing-masing sudah mengetahui kelebihan dan kekurangannya. Untuk mengetahui mana di antara mereka yang lebih baik dan lebih cerdik, gurutersebut terpaksa menggunakan cara lain.

Suatu tengah malam seusai shalat, guru tersebut memanggil kedua muridnya dan memberi mereka tugas,"Besok pagi ba'da subuh kalian pergilah ke hutan mencari ranting pohon. Siapa yang pulang dengan hasil yang terbanyak, dialah yang keluar sebagai pemenang, dan berhak mewarisi pesantren dan perguruan ini" Sambil menarik napas panjang sang guru memperhatikan kedua muridnya yang sedang mendengarkan dengan serius kemudian ia melanjutkan, "Waktu yang tersedia untuk kalian adalah jam lima pagi sampai jam lima sore." Kemudian guru tersebut mengambil sesuatu dari bawah meja dan berkata,"Ini adalah dua bilah parang yang dapat kalian gunakan, ada pertanyaan?"

Karena merasa tugas yang diembankan kepada mereka mudah, mereka pun serempak menjawab,"Tidak.""Baiklah kalau begitu, sekarang, kalian cepatlah beristirahat dan besok bangun lebih pagi," Nasihat sang guru.

Mendapat tugas yang baru ini, di benak murid yang pertama langsung terbayang bahwa keesokan harinya ia harus bangun lebih awal, harus bekerja lebih keras dan lebih serius karena waktunya terbatas. Ia terlalu terfokus pada waktu, yakni harus berangkat jam5 tepat , tidak boleh kurang satu detik pun dan pulang jam 5 sore , tidak boleh lebih. Setelah yakin dengan waktunya, ia pun pergi tidur.

Dengan tugas yang sama, murid kedua lebih terfokus pada pekerjaan yang harus dilakukannya. Ia langsung memeriksa parang yang disediakan oleh gurunya, dan ternyata parang tersebut adalah parang tua yang sudah tumpul.

Maka, ia pun memutuskan, besok sebelum berangkat ia akan mencari batu asah untuk mengasah parangnya agar menjadi tajam dan siap digunakan. Dengan parang yang lebih tajam, hasil yang sama dapat diperoleh dengan upaya yang lebih sedikit, pikirnya.

Tantangan kedua yang terbayang di benaknya adalah bagaimana cara membawa ranting pohon lebih banyak secara efisien dan efektif ? Sementara temannya sudah tertidur lelap, ia bermunjat dan berdoa kepada Allah, meminta agar dimudahkan segala urusannya sambil memikirkan cara terbaik untuk membawa ranting dengan jumlah lebih banyak. Setelah berpikir cukup lama dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, ia memutuskanuntuk menyiapkan tali pengikat dan tongkat pikulan sebelum berangkat keesokan harinya.

Dengan memikul ranting menggunakan tongkat pikulan. Paling tidak, ia bisa membawa dua ikat besar ranting-satu di depan dan satu lagi dibelakang , itu berarti dua kali lipat lebih banyak dibandingkan memanggulnya.Dengan perasaan puas, ia shalat malam lalu pergi tidur.

Keesokan harinya, murid pertama yang sudah berencana akan bekerja keras, bangun tepat waktu dan langsung berangkat ke hutan. Sementara itu, murid kedua masih asyik berdzikir dan membaca Al-Qur'an. Tepat jam enam pagi, murid kedua bergagas. Sesuai rencana, ia segera mencari batu asah dan mengasah parangnyasampai benar-benar tajam.Kemudian ia mencari tali dan tongkat pikulan. Setelahsemua perlengkapan siap, ia segera berangkat ke hutan, jam menunjukkan pukultujuh lebih.

Ketika jam menunjukkan pukul satu siang, murid kedua sudah berhasil mengumpulkan ranting cukup banyak. Ia segera mengikatnya menjadi dua dan memikulnya pulang. Sesampainya di pesantren, diserahkannya ranting-rantingtersebut kepada gurunya. Ia berhasil mendapat banyak ranting dan pulang lebih cepat.

Sementara itu, murid pertama, karena tidak mengasah parangnya, harus menggunakan waktu dan energi yang lebih besar untuk memotong ranting pohon.Dengan demikian ia juga memerlukan waktu yang lebih banyak untuk beristirahat karena kelelahan. Belum waktu yang ia gunakan untuk mencari tali pengikat. Selain itu, dengan caranya membawa ranting kayu yang dipanggul di pundaknya, jumlah yang bisa dibawanya juga terbatas.


Hikmah :
  • Terkadang kita terbelenggu oleh kerutinan kerja sehari - hari, sehingga lupa " mengasah parang " yang berupa bermunajat dan meminta petunjuk kepada Allah, belajar , ikut pelatihan, training , mengadakan meeting, briefieng pagi dan lain - lain. Padahal kegiatan diatas yang menurut kita " buang waktu " tersebut justru merupakan sarana ampuh untuk meningkatkan dan mengembangkan Skill , Knowledge dan Attitude kita.
  • Pelatihan , tafakur, dzikir, pengajian, training , meeting , briefieng , pengarahan atau belajar pada dasarnya adalah bertujuan untuk " memudahkan " pekerjaan kita sehari - hari. Bukankah mengasah parang selama 3 menit sangat tidak berarti saat kita harus menebang pohon selama 3 jam . . . . . . . . . . . .
  • Oleh karenanya, minimal usahakanlah setiap pagi hari, membaca Al-Qur'an, berdzikir, membaca al-Ma'tsurat, dan juga berpositif thinking... Di samping diwaktu-waktu tertentu galilah potensi diri dengan mengikuti training, membaca buku motivasi, mengikuti seminar, milis yang bermanfaat, dsb... Mudah-mudahan kita semua dimudahkan Allah untuk menggapai hari esok yang lebih baik.
(Dikutip dari andriwongso.com, dengan sedikit edit beberapa bahasa dan kalimatnya)