Selasa, 04 Februari 2014

HAKEKAT, CIRI DAN KOMPONEN BELAJAR MENGAJAR

Makalah untuk Disampaikan dalam Perkuliahan Pendidikan Profesi Guru PAI Angkatan II 2013/ 2014

DOSEN INSTRUKTUR :
 DR. SITI FATIMAH, M. Pd


Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan, sehingga makalah yang berjudul  “Hakikat, Ciri, dan Komponen  Belajar Mengajar”  ini dapat diselesaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, para sahabatnya, keluarganya, dan sekalian umatnya hingga akhir zaman.

Dengan segala kemampuan penulis yang terbatas, makalah ini mencoba menguraikan tentang hakikat, ciri-ciri, serta komponen-komponen apa saja yang mendukung kegiatan belajar mengajar. Dan dengan adanya makalah ini penulis berharap sedikit membantu para pembaca dan penulis sendiri dalam proses belajar dan mengajar.

Sebagai calon pendidik profesional hendaknya kita lebih memahami bagaimana hakekat dan Ciri serta Komponen  Belajar Mengajar, namun demikian, apabila dalam makalah ini dijumpai kekurangan dan kesalahan baik dalam pengetikan maupun isisnya, maka penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ibu Dr. Siti Fatimah, M.Pd Tutot/ Instuktur dalam Mata Kuliah Pengembangan Strategi Pembelajaran juga kepada semua Peserta PPG PAI yang akan bersama-sama mewujudkan tercapainya tujuan perkuliahan Pengembangan Strategi Pembelajaran. Semoga makalah yang sederhana ini bermanfaat.
 Amin yaa rabbal alamin.


PENDAHULUAN

Belajar mengajar adalah suatu kegiatan edukatif yang mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Dan interaksi tersebut dikarenakan adanya belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. 

Masalah yang cukup sulit dihadapi oleh seorang guru adalah bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat dikuasai anak didik secara tuntas. Dengan kata lain, sebagai seorang guru dituntut untuk bisa menentukan metode penyampaian bahan pelajaran yang terbaik  kepada anak didiknya. Karena metode mempunyai andil yang cukup besar dalam kegiatan belajar mengajar maka diperlukan pemahaman tentang Hakekat, ciri dan komponen- komponen yang harus terpenuhi dalam proses belajar mengajar.

Keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) akan ditentukan oleh kerelevansian penggunaan suatu metode yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, ini berarti, tujuan pembelajaran akan dapat dicapai dengan menggunakan metode yang tepat. Dengan tercapainya tujuan pembelajaran, maka dapat dikatakan bahwa guru telah berhasil dalam proses belajar mengajar (KBM).




PEMBAHASAN
A.   Hakikat Belajar Mengajar

Dalam kehidupan kita sehari-hari hampir tidak pernah terlepas dari kegiatan belajar, baik ketika seseorang melaksanakan aktivitas sendiri atau berkelompok. Karena belajar merupakan kegiatan penting setiap orang, termasuk didalamnya belajar bagaimana seharusnya belajar. Sedangkan mengajar dapat diartikan sebagai suatu keadaan atau suatu aktivitas untuk menciptakan suatu situasi yang mampu mendorong siswa untuk belajar.[1]

Dalam kehidupan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan objek dari kegiatan pengajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai tujuan pengajaran.

Kegiatan mengajar bagi seorang guru menghendaki hadirnya sejumlah anak didik, berbeda dengan belajar, belajar tidak selamanya memerlukan kehadiran seorang guru. Sedangkan mengajar pasti merupakan kegiatan yang mutlak memerlukan keterlibatan anak didik. Karena itu, belajar dan mengajar merupakan istilah yang sudah baku dan menyatu di dalam konsep pengajaran.

Guru yang mengajar dan anak didik yang belajar adalah dwi tunggal dalam perpisahan jiwa raga bersatu antara guru dan anak didik.

Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu suatu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar anak didik, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuan kepada anak didik dalam dalam melakukan proses belajar. (Nana Sudjana,1991:29)   
Akhirnya, bila hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakikat mengajar adalah proses “pengaturan” yang dilakukan oleh guru.[2]

B.     Ciri Belajar Mengajar

Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memeroleh seusuatu yang ada di lingkungan sekitar.[3]

Karena itu, sebagai suatu proses pengaturan, kegiatan belajar mengajar tidak terlepas dari ciri tertentu, yang menurut Edi Suardi sebagai berikut:

1.      Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembanagan tertentu
2.      Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah          ditetapkan
3.      Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus
4.      Ditandai dengan aktivitas anak didik
5.      Dalam kegiatan balajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing
6.      Dalam kegiatan balajar mengajar membutuhkan kedisiplinan
7.      Ada batas waktu
8.      Evaluasi

C.    Komponen-komponen Belajar Mengajar

Sebagai suatu sistem tentu saja kegiatan mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan balajar mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi. Penjelasan dari setiap komponen tersebut adalah sebagai berikut:
  
1.      Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan, karena tanpa tujuan adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menentukan ke arah mana kegiatan itu akan dibawa. Tujuan dalam pendidikan dan pengajaran adalah suatu cita-cita yang bernilai normatif. Dengan kata lain, dalam tujuan terdapat sejumlah nilai yang harus ditanamkan kepada anak didik. Nilai-nilai itu nantinya akan mewarnai cara anak didik bersikap dan berbuat dalam lingkungan sosialnya.

Ny. Dr. Roestiyah, N.K. (1989:44) mengatakan bahwa suatu pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan perilaku (perfomance) murid-murid yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan yang kita ajarkan. [4]

2.      Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran adalah sustansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses balajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikan pada anak didik.[5] Bahan pelajaran merupakan komponen yang tidak bisa diabaikan dalam pengajaran, sebab bahan adalah initi dalam proses belajar mengajar yang akan disampaikan kepada anak didik.

3.      Kegiatan Belajar Mengajar
        Kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran, kegiatan belajar mengajar akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai.

4.      Metode
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir.[6] Ada berbagai metode pengajaran yang perlu dipertimbangkan dalam strategi belajar mengajar. Ini perlu, karena ketepatan metode akan memengaruhi bentuk strategi belajar mengajar.[7]

5.      Alat
Alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Alat dapat dibagi menjadi dua macam yaitu alat dan alat bantu pengajaran. Alat adalah berupa suruhan, perintah, larangan, dan sebagainya. Sedangkan alat bantu pengajaran adalah berupa globe, papan tulis, batu tulis, batu kapur, gambar, diagram, slide, video, dan sebagainya.




6.      Sumber Pelajaran
Sumber pelajaran merupakan bahan atau materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal baru bagi si pelajar. Sebab, pada hakikatnya belajar adalah untuk mendapatkan hal-hal  baru (perubahan).

7.      Evaluasi
Evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan telah tercapai. Karena itu di dalam menyusun evaluasi hendaknya memperhatikan secara seksama rumusan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan harus dapat mengukur sejauh mana proses pembelajaran telah dilaksanakan.[8]


KESIMPULAN

Belajar mengajar adalah suatu kegiatan edukatif yang mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Dan interaksi tersebut dikarenakan adanya belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Akhirnya, bila hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakikat mengajar sebagai suatu “proses pengaturan” yang dilakukan oleh guru.
Menurut Edi Suardi ciri belajar mengajar adalah sebagai berikut:

1.      Belajar mengajar memiliki tujuan.
2.      Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang terencana.
3.      Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus.
4.      Ditandai dengan aktivitas anak didik
5.      Dalam kegiatan balajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing
6.      Dalam kegiatan balajar mengajar membutuhkan kedisiplinan
7.      Ada batas waktu
8.      Evaluasi

Komponen – komponen belajar mengajar  adalah sebagai berikut :
1.      Tujuan
2.      Bahan Pelajaran
3.      Kegiatan  Belajar Mengajar
4.      Metode
5.      Alat
6.      Sumber Pelajaran
7.      Evaluasi

DAFTAR PUSTAKA

Aunnurrahman, 2010. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta
Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Grasindo.
Mujiono dan Dimyati.  1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Zain, Aswan & Syaiful Bahri Djamarah. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipt


[1] Aunnurrahman, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2010). Hal. 32.
[2]  Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, hal.38-39
[3] Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999), hal. 7
[4] Ibid., hal. 41-42     
[5] Ibid., hal. 43-44
[6] Ibid.,  hal. 53
[7] W Gulo, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Grasindo, 2002), hal. 9.
[8] Aunurrahman, Loc. Cit., hal. 209.

Rabu, 18 Desember 2013

BIMBINGAN ROHANI (PANDUAN STUDI WISATA SD ALKAUTSAR)


  Oleh :  

Azkan Ihsan dan Team Bina Rohani   Studi Wisata SD Al-Kautsar, 2013 


1. Disunnahkan ketika hendak bepergian, mengerjakan sholat dua rakaat,berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabaraniy. Lafaz niatnya :
Usholli Sunnatas Shafar rok’ataini adaan lillahi Ta’ala ( Sengajaku Shalat sunnah safar dua rakaat karena Allah Ta’ala ) Sertelah Shalat berdo’a mohon keselamatan. Lalu  berpamitan dengan keluarga dan kerabat, serta memohon didoakan oleh mereka, dan kita mendoakan mereka [HR. Imam Ahmad]

2.        Disunnahkan sebelum keluar dari rumah membaca doa:

بِسْــمِ اللهِ تَوَكَّـلْتُ عَلَى اللهِ لاَ حَـوْلَ وَلاَ قُـوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ, اَللَّـهُمَّ إِنـِّى اَعُوْذُ بِكَ اَنْ اَضِلَّ اَوْ اُضَلَّ اَوْ اَزِلَّ اَوْ اُزَلَّ اَوْ اَظْلَمَ اَوْ اُظْلَمَ اَوْ اَجْهَلَ اَوْ  يُجْهَلَ عَلَىَّ

“Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, wa laa haula wa laa quwwata illa billah.  Allahuuma inniy a’uudzu bika an adhilla au udholla, au azilla au uzalla, au adzlima au udzlima, au ajhala au yujhala ‘alayya”.(Dengan menyebut Asma Allah, aku bertawakal kepada Allah, dan tidak ada daya maupun kekuatan kecuali dengan Allah.  Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari menjadi sesat dan disesatkan, atau dari tergelincir dan digelincirkan, atau dari menganiaya dan dianiaya, atau dari menjadi bodoh dan diperbodoh”.

3.        Setelah itu ( diluar rumah) , disunnahkan membaca doa berikut ini:

اَللَّـهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّـفَرِ وَ الْـخَلِيْفَةُ فِـى اْلاَهْلِ, اَللَّـهُمَّ إِنِّى اَعُـوْذُ بِكَ مِنَ الضَّبْنَةِ فىِ السَّفَرِ وَ الْكَابَةِ فىِ الْـمُنْقَلَبِ , اَللَّـهُمَّ اطْوِلَنَا اْلاَرْضَ وَهَوِّنْ عَلَيْنَا السَّفَرَ

“Allahumma antash shaahibu fis safar, wal khaliifatu fil ahli.  Allahumma inniy ‘audzu bika minadl dlabnah fis safar, wal kaabati fil munqalabi; Allahummathwilanaal ardla, wa hawwin ‘alainaas safar”. [Ya Allah, Engkaulah sebagai teman dalam perjalanan, sebagai pengganti bagi keluarga.  Ya Allah, aku berlindung dari berteman dengan orang yang tidak berguna dalam perjalanan, dan beroleh kekecewaan di waktu pulang nanti".  Ya Allah, dekatkanlah bagi kami jarak bumi, dan mudahkanlah perjalanan kami").  Dan jika hendak kembali, beliau saw mengucapkan, "Ayyibuuna taaibuna, 'aabiduuna li rabbinaa haamiduun".(Kami kembali pulang, beribadah dan bersyukur kepada Rabb kami". [HR. Imam Ahmad, Thabaraniy, dan Bazzar]                                                                       
4.       Hendaknya ketika melangkahkan kaki menuju kendaraan, mengucapkan Bismillahir rahmaa nirraahiim.   Lalu, setelah duduk tenang, membaca doa:

سُـبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَاذَ وَ مَا كُنَّا نَـحْنُ مُـقْرِنِيْنَ وَ إِنَّ اِلىَ رَبِّنَا لَـمُنْقَلِبُوْنَ

“Alhamdulillah, subhaanal ladzii sakhkhara lanaa, haadza wa maa kunnaa lahu muqriniin, wa inna ila rabbinaa lamunqalibuun”.[Segala puji hanya miliki Allah, Maha Suci Allah yang telah menjinakkan bagi kami kendaraan ini, padahal sebelumnya kami takkan mampu menguasainya, dan sungguh kami nanti akan pulang kembali kepada Tuhan kami"]

Setelah itu membaca tahmid dan takbir 3 kali, seraya berdoa:

سُـبْحَانك لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ , قَدْ ظَـلَمْتُ نَفْـسِى, فَاغُـفِرْ لِـى, إِنَّهُ لاَ يَغْـفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Subhaanaka laa ilaha illa anta, qad dzalamtu nafsii, faghfir liy, innahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta”. [Maha Suci Engkau, tiada Tuhan melainkan Engkau, aku telah menganiaya diriku sendiri, maka ampunilah aku, karena, sesungguhnya tiadalah yang dapat mengampuni dosa itu melainkan Engkau] [HR. Ibnu Hibban]

5.        Ketika seorang musaafir kemalaman di perjalanan, hendaknya ia berdoa, seperti doa Rasulullah saw berikut ini:

يَا اَرْضُ , رَبىِ وَ رَبُّكِ الله ُ, اَعُـوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّكِ وَالشَّرِّ مَا فِيْكِ, وَشَرِّ مَا خُلِقَ فِيْكِ, وَشَرِّ مَا دَبَّ عَلَيْكِ , اَعُوْذُ باِللهِ مِنْ شَرِّ كُلِّ اَسَدٍ وَ اَسْوَدٍ وَ حَيَّةٍ وَ عَقْرَبٍ وَ مِنُ شَرِّ سَاكِنِ الْبَلَدِ وَ مِنْ شَرِّ وَالِدٍ وَ مَا وَلَدَ

“Ya ardlu, Rabbi wa Rabbukillah, a’uudzu billaahi min syarriki wasy syarri maa fiiki, wa syarri ma khuliqa fiiki, wa syarri ma dabba ‘alaiki, a’uudzu billahi min syarri kulli asadin wa aswadin, wa hayyatin, wa ‘aqrabin, wa min syarri saakinil baladi, wa min syarri waalidin wa maa walada” [Hai bumi, Tuhanku dan Tuhanmu ialah Allah! Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu, kejahatan yang terdapat padamu, kejahatan dari apa yang dicipta padamu, dan kejahatan makhluk yang melata di atasmu!  Aku berlindung kepada Allah dari bencana segala binatang buas, dan ular-ular besar, dari ular dank ala, dari bencana penduduk negeri ini, serta dari bencana orang tua dan keturunannya]

6.       Doa Musafir Bila Menempati Sebuah Rumah/ Penginapan/ Hotel

اَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ كُلِّهَا مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

“A’uudzu bikalimaatillahit taammati kullihaa min syarri ma khalaqa”.  
 [Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna seluruhnya dari kejahatan yang diciptakanNya].  Siapa saja yang berdoa dengan doa ini, niscaya tak ada sesuatupun yang bisa mencelakainya sampai ia berangkat meninggalkan rumah itu. [HR. Jama'ah, kecuali Imam Bukhari dan Abu Dawud]

7.       Doa Musaafir Ketika Telah Dekat Dengan Sebuah Kampung atau Tempat Tujuan

اَللَّـهُمَّ رَبِّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ وَ رَبِّ اْلاَرْضِيْنَ السَّبْعِ وَمَا اَقْلَلْنَ وَ رَبِّ  الشَّيَاطِيْنَ وَ مَا اَضْلَلْنَ وَ رَبِّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ ، اَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ وَ خَيْرَ أَهْلَهَا وَ خَيْرَ مَا ِفيْهَا, وَ نَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَ شَرِّ أَهْلِهَا وَ شَرِّ مَا فِيْهَا

“Allahumma rabbis samaawaatis sab’i wamaa adhlalna, wa rabbal ardliinas sab’I wa maa aqlalna, wa rabbasy syayaathiini wa maa adhlalna, wa rabbar riyaahi wamaa dzaraina.  As`aluka  khaira haadzihil qaryah wa khaira ahlihaa wa khairaa maa fiihaa, wa na’uudzu bika min syarrihaa wa syarri ahlihaa wa syarri maa fiihaa”
[Ya Allah, Tuhan dari langit yang tujuh dan apa-apa yang dinaungiNya, dan Tuhan bumi yang tujuh dan apa-apa yang mendiaminya;  Tuhan dari setan-setan dan apa-apa yang disesatkannya, dan Tuhan dari angin dan apa-apa yang diterbangkannya; aku memohon kepadaMu agar diberi kebaikan-kebaikan dari kampong ini, kebaikan-kebaikan  penduduknya, dan kebaikan yang terdapat di dalamnya.  Kami berlindung kepadaMu dari kejelekannya, kejahatan penduduk, dan kejahatan yang terdapat di dalamnya]
 [HR Ibnu Hibban dan Hakim menyatakan, hadits ini shahih]

Jika mendapati jalan yang mendaki hendaknya membaca takbir ( ALLOOHU AKBAR), bila turun membaca tasbih ( SUBHANALLOOH) . [HR. Imam Bukhari]


TATA CARA SHALAT JAMA’ DAN QASHAR


Orang yang sedang bepergian itu dibolehkan memendekkan shalat atau meringkas shalat yang jumlah shalatnya empat raka’at menjadi dua raka’at (shalat qashar). Dibolehkan pula mengumpulkan shalat dalam satu waktu, shalat dhuhur dengan ashar - maghrib dengan isya’ (shalat jama’). Sedangkan shalat subuh tidak bisa diqoshor maupun dijama’ tapi untuk shalat maghrib bisa dijama’ dan tidak bisa diqoshor.

Men-jama' shalat ada 2. Bila dilakukan waktu shalat yamg awal (misalnya Dhuhur dan Ashar dilakukan pada waktu Dhuhur), maka dinamakan jama' takdim dan bila dilakukan pada waktu yang kedua (seperti Dhuhur dan Ashar dilakukan pada waktu ashar) maka disebut jama' ta'khir.

A.     SHALAT DHUHUR JAMAK TAKDIM DENGAN SHALAT ASHAR
Keterangan: Shalat dilaksanakan di waktu Shalat Dhuhur. Setelah Shalat Dhuhur kemudian dilanjutkan dengan Shalat Ashar.

1.       Niat Shalat Dhuhur Jamak Takdim dengan Shalat Ashar
USHALLII FARDHOL DHUHRI ARBA’A RAKA’ATIN MAJMUU’AN BIL ‘ASHRI MA’MUMAN/IMAAMAN LILLAAHI TA’AALAA
“Aku niat Shalat Dhuhur empat rakaat dijama’ dengan Shalat Ashar makmum/iman karena Allah Ta’alla”
2.       Niat Shalat Ashar Jamak Takdim dengan Shalat Dhuhur
USHALLII FARDHOL DHUHRI ARBA’A RAKA’ATIN MAJMUU’AN BIL ‘ASHRI MA’MUMAN/IMAAMAN LILLAAHI TA’AALAA
“Aku niat Shalat Dhuhur empat rakaat dijama’ dengan Shalat Ashar makmum/iman karena Allah Ta’alla”

B.     SHALAT DHUHUR JAMAK TAKHIR DENGAN SHALAT ASHAR
Keterangan: Shalat dilaksanakan di waktu Shalat Ashar. Setelah Shalat Dhuhur kemudian dilanjutkan dengan Shalat Ashar.

1.       Niat Shalat Dhuhur Jamak Ta’khir dengan Shalat Ashar
USHALLII FARDLADH ‘ASHRI ARBA’A RAKA’ATIN MAJMUU’AN BIDHDHUHRI MA’MUMAN/IMAAMAN LILLAAHI TA’AALAA
“Aku niat Shalat Ashar empat rakaat dijama’ dengan Shalat Dhuhur makmum/iman karena Allah Ta’alla”

2.       Niat Shalat Ashar Jamak Ta’khir dengan Shalat Dhuhur
USHALLII FARDHOL ‘ASHRI ARBA’A RAKA’ATIN MAJMUU’AN BIDHDHUHRI MA’MUMAN/IMAAMAN LILLAAHI TA’AALAA
“Aku niat Shalat Ashar empat rakaat dijama’ dengan Shalat Dhuhur makmum/iman karena Allah Ta’alla”

C.     SHALAT DHUHUR QASHAR DAN SHALAT ASHAR QASHAR
Keterangan: Shalat dilaksanakan di waktu masing-masing. Jumlah Rakaat Shalat Dhuhur dan Shalat Ashar menjadi dua rakaat.

1.       Niat Shalat Dhuhur Qoshor
USHALLII FARDHOL DHUHRI RAK’ATAINI QASRHRAN LILLAAHI TA’AALAA
“Aku niat Shalat Dhuhur dua rakaat dengan Qashar karena Allah Ta’alla”
2.       Niat Shalat Ashar dengan Qoshor
USHALLII FARDHOL ‘ASHRI RAK’ATAINI QASRHRAN LILLAAHI TA’AALAA
“Aku niat Shalat ‘Ashar dua rakaat dengan Qashar karena Allah Ta’alla”

D.     SHALAT DHUHUR JAMAK TAKDIM DAN QASHAR DENGAN SHALAT ASHAR
Keterangan: Shalat dilaksanakan di waktu Shalat Dhuhur. Setelah Shalat Dhuhur kemudian dilanjutkan dengan Shalat Ashar. Jumlah Rakaat Shalat Dhuhur dan Shalat Ashar masing- masing menjadi dua rakaat.

1.       Niat Shalat Dhuhur Jama’ Takdim beserta Qoshor dengan Shalat Ashar
USHALLII FARDHOL DHUHRI RAK’ATAINI QASRHRAN MAJMUU’AN BIL ‘ASHRI LILLAAHI TA’AALAA “Aku niat Shalat Dhuhur dua rakaat Qashar dan Jamak dengan Shalat ‘Ashar karena Allah Ta’alla”

2.       Niat Shalat Ashar Jama’ Takdim beserta Qoshor dengan Shalat Dhuhur
USHALLII FARDHOL ‘ASHRI RAK’ATAINI QASRHRAN MAJMUU’AN BIL DHUHRI LILLAAHI TA’AALAA  “Aku niat Shalat ‘Ashar dua rakaat Qashar dan Jamak dengan Shalat Dhuhur karena Allah Ta’alla”


E.      SHALAT DHUHUR JAMAK TAKHIR DAN QASHAR DENGAN SHALAT ASHAR
Keterangan: Shalat dilaksanakan di waktu Shalat Ashar. Setelah Shalat Dhuhur kemudian dilanjutkan dengan Shalat Ashar. Jumlah Rakaat Shalat Dhuhur dan Shalat Ashar menjadi dua rakaat.

1.       Niat Shalat Dhuhur Jama’ Ta’khir beserta Qoshor dengan Shalat Ashar
USHALLII FARDHOL DHUHRI RAK’ATAINI QASRHRAN MAJMUU’AN BIL ‘ASHRI LILLAAHI TA’AALAA   “Aku niat Shalat Dhuhur dua rakaat Qashar dan Jamak dengan Shalat ‘Ashar karena Allah Ta’alla”

2.       Niat Shalat Ashar Jama’ Ta’khir beserta Qoshor dengan Shalat Dhuhur
USHALLII FARDHOL‘ASHRI RAK’ATAINI QASRHRAN MAJMUU’AN BIL DHUHRI LILLAAHI TA’AALAA   “Aku niat Shalat ‘Ashar dua rakaat Qashar dan Jamak dengan Shalat Dhuhur karena Allah Ta’alla”

F.      SHALAT MAGHRIB JAMAK TAKDIM DENGAN SHALAT ISYA’
Keterangan: Shalat dilaksanakan di waktu Shalat Maghrib. Setelah Shalat Maghrib kemudian dilanjutkan dengan Shalat Isya’.

1.       Niat Shalat Maghrib Jama’ Takdim dengan Shalat Isya’
USHALLII FARDHOL MAGHRIBI TSALAASA RAKA’ATIN MAJMUU’AN BIL ISYAA’I MA’MUMAN/IMAAMAN LILLAAHI TA’AALA    “Aku niat Shalat Maghrib tiga rakaat dijama’ dengan Shalat Isya’ makmum/iman karena Allah Ta’alla”

2.       Niat Shalat Isya’ Jama’ Takdim dengan Shalat Maghrib
USHALLII FARDHOL MAGHRIBI TSALAASA RAKA’ATIN MAJMUU’AN BIL ISYAA’I MA’MUMAN/IMAAMAN LILLAAHI TA’AALAA   “Aku niat Shalat Maghrib tiga rakaat dijama’ dengan Shalat Isya’ makmum/iman karena Allah Ta’alla”

G.     SHALAT MAGHRIB JAMAK TA’KHIR DENGAN SHALAT ISYA’
Keterangan: Shalat dilaksanakan di waktu Shalat Isya’. Setelah Shalat Maghrib kemudian dilanjutkan dengan Shalat Isya’.

1.       Niat Shalat Maghrib Jama’ Ta’khir dengan Shalat Isya’
USHALLII FARDHOL MAGHRIBI TSALAASA RAKA’ATIN MAJMUU’AN BIL ISYAA’I MA’MUMAN/IMAAMAN LILLAAHI TA’AALAA    “Aku niat Shalat Maghrib tiga rakaat dijama’ dengan Shalat Isya’ makmum/iman karena Allah Ta’alla”

2.       Niat Shalat Isya’ Jama’ Ta’khir dengan Shalat Maghrib
USHALLII FARDHOL ISYAA’I ARBA’A RAKA’ATIN MAJMUU’AN BIL MAGHRIBI MA’MUMAN/IMAAMAN LILLAAHI TA’AALAA   “Aku niat Shalat Isya’ empat rakaat dijama’ dengan Shalat Maghrib makmum/iman karena Allah Ta’alla”


H.     SHALAT ISYA’ QASHAR
Keterangan: Shalat dilaksanakan di waktu Shalat Isya’. Jumlah Rakaat Shalat Isya’ menjadi dua rakaat.

Niat Shalat Isya’ dengan Qoshor
USHALLII FARDLADH ISYA’I RAK’ATAINI QASRHRAN LILLAAHI TA’AALAA
“Aku niat Shalat Isya’ dua rakaat dengan Qashar karena Allah Ta’alla”

I.        SHALAT MAGHRIB JAMAK TAKDIM DAN QASHAR DENGAN SHALAT ISYA’
Keterangan: Shalat dilaksanakan di waktu Shalat Maghrib. Setelah Shalat Maghrib kemudian dilanjutkan dengan Shalat Isya’. Jumlah Rakaat Shalat Isya’ menjadi dua rakaat.

1.       Niat Shalat Maghrib Jama’ Takdim beserta Qoshor dengan Shalat Isya’
USHALLII FARDLAL MAGHRIBI TSALAASA RAKA’ATIN QASRHRAN MAJMUU’AN BIL ISYA’I LILLAAHI TA’AALAA  “Aku niat Shalat Maghrib tiga rakaat Qashar dan Jamak dengan Shalat Isya’ karena Allah Ta’alla”

2.       Niat Shalat Isya’ Jama’ Takdim beserta Qoshor dengan Shalat Maghrib
USHALLII FARDLAL ISYA’I ARBA’A RAKA’ATIN QASRHRAN MAJMUU’AN BIL MAGHRIBI LILLAAHI TA’AALAA  “Aku niat Shalat Isya’ dua rakaat Qashar dan Jamak dengan Shalat Maghrib karena Allah Ta’alla”

J.       SHALAT MAGHRIB JAMAK TA’KHI QASHAR DENGAN SHALAT ISYA’
Keterangan: Shalat dilaksanakan di waktu Shalat Isya’. Setelah Shalat Maghrib kemudian dilanjutkan dengan Shalat Isya’. Jumlah Rakaat Shalat Isya’ menjadi dua rakaat.

1.       Niat Shalat Maghrib Jama’ Ta’khir beserta Qoshor dengan Shalat Isya’
USHALLII FARDLADH MAGHRIBI TSALAASA RAKA’ATIN QASRHRAN MAJMUU’AN BIL ISYA’I LILLAAHI TA’AALAA   “Aku niat Shalat Maghrib tiga rakaat Qashar dan Jamak dengan Shalat Isya’  karena Allah Ta’alla”

2.       Niat Shalat Isya’ Jama’ Ta’khir beserta Qoshor dengan Shalat Maghrib
USHALLII FARDHAL  ISYA’I RAK’ATAINI QASRHRAN MAJMUU’AN BIL MAGHRIBI LILLAAHI TA’AALAA  “Aku niat Shalat Isya’  dua rakaat Qashar dan Jamak dengan Shalat Maghrib karena Allah Ta’alla”

( Setelah Kembali di rumah masing-masing di sunnahkan untuk Shalat Sunnah di Masjid terdekat sebelum memasuki rumah )