Rabu, 14 Desember 2011

MENGUSAP WAJAH SETELAH SHALAT

Pendapat pertama menyatakan bahwa mengusap wajah setelah shalat hukumnya adalah  Sunnah.  Dalam Kitab Bughyatul Mustarsyidin hal. 49 :

(فَائِدَةٌ) رَوَى ابْنُ مَنْصُوْرٍ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَضَى صَلاَتَهُ مَسَحَ جَبْهَتَهُ بِكَفِّهِ الْيُمْنَى ثُمَّ أَمَرَّهَا عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى يَأْتِيَ بِهَا عَلَى لِحْيَتِهِ الشَّرِيْفَةِ وَقَالَ: بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَللَّهُمَّ اذْهَبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ وَالْغَمَّ. اَللَّهُمَّ بِحَمْدِكَ انْصَرَفْتُ وَبِذَنْبِيْ اعْتَرَفْتُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اقْتَرَفْتُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ بَلاَءِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ اْلآخِرَةِ. اهـ
Artinya :“Diriwayatkan oleh Ibnu Manshur bahwa Rasulullah SAW. ketika selesai shalat (setelah salam) mengusap wajahnya dengan tapak tangannya yang kanan, kemudian diteruskan sampai ke dagunua yang mulia sambil membaca do’a : Bismillahillazii laa ilaaha illaa huwa ‘aalimul ghoibi wasy-syahadatir Raohmanir-Rahiim,Alloohummazhab ‘annil hamma walhazana wal ghomm. Alloohumma bihamdikan shoroftu wa bizdanbii I’taroftu. A’uuzubika min Syarrimaaq taroftu. Wa a’uuzubika min jahdil bala’iddunya wa ‘azdaabil aakhiroh.”
   
     Al-Ustadz Abu Hamzah Al Atsary berkata : Salah satu kebiasaan yang sering kita lihat, setiap selesai mengucapkan salam dalam shalat, umat Islam mengusap wajah dengan tangan kanannya. Hal ini didasarkan satu riwayat bahwa Rasulullah SAW selalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.

عنِ السَّائِبِ بْنِ يِزِيْدِ عَنْ أَبِيْهِ أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إذَا دَعَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ  -

Dari Saib bin Yazid dari ayahnya, “Apabila Rasulullah SAW berdoa, beliau beliau selallu mengangkat kedua tangannya, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya." (HR Abu Dawud, 127
Begitu pula orang yang telah selesai melaksanakan shalat, ia juga disunnahkan mengusap wajah dengan kedua tangannya, sebab shalat secara bahasa berarti berdoa. Maka wajar jika setelah shalat ia juga disunnahkan untuk mengusap muka.
Syekh Abu Bakar bin Muhammad Syatha dalam kitab I’anatut Thalibin menyatakan: Imam Nawawi dalam kitabnya al-Adzkar, dan kami juga meriwayatkan hadits dalam kitab Ibnus Sunni dari Sahabat Anas bahwa Rasulullah SAW apabila selesai melaksanakan shalat, beliau mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. Lalu berdoa:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ اَللَّهُمَّ اذْهَبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ

Saya bersaksi tiada Tuhan kecuali Dia Dzat Yang maha Pengasih dan penyayang. Ya Allah Hilangkan dariku kebingungan dan kesusahan." (I’anatut Thalibin, juz I, hal 184-185)

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz  menjelaskan: Hukumnya adalah disunnahkan sebagaimana hadits yang disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajr dalam kitab Bulughul Marom Bab Dzikr wa Du’a.  Bab tersebut adalah akhir bab dalam Bulughul Marom. Hal ini dijelaskan dalam beberapa hadits yang semuanya jika dikumpulkan mencapai derajat hasan.  Syaikh Ibnu Baz rahimahullah ketika ditanya tentang yang mengatakan bahwa mengusap wajah setelah berdo’a termasuk bid’ah beliah berkata : Berilah kami kejelasan dalam hal ini. Jazakallah khoiron


Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ibnus Sunni, al-Bazzar dan Ibnu ‘Adi. Di sini aku nukilkan riwayat Ibnus Sunni dalam “‘Amalul Yawm wal Lailah” halaman 35, yang meriwayatkan bahawa Sayyidina Anas bin Malik r.a. berkata:
,
كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا قضى صلاته مسح جبهته بيده اليمنى  ثم قال: أشهد أن لاإله إلا الله الرحمن الرحيم  اللهم أذهب عني الهم و الحزن

Adalah Junjungan Rasulullah s.a.w. apabila selesai daripada sholat, baginda menyapu dahinya dengan tangan kanan sambil mengucapkan: “Aku bersaksi bahawasanya tiada tuhan yang disembah selain Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih. Ya Allah, hilangkanlah daripadaku segala kegundahan dan kedukaan.”

Maka mengusap wajah setelah shalat menurut pendapat pertama ini adalah sunnah bukanlah bid’ah karena banyaknya hadits yang menerangkan hal ini bahkan sebagian ulama telah menghasankan hadits tersebut karena dilihat dari jalur lainnya yang menguatkan. Di antara ulama yang menghasankannya adalah Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam akhir kitabnya Bulughul Marom. Kaedah yang dipakai dalam hal ini adalah : Al-ahaadiitsu Adh-dha’iif hujjatun lifadhaa-ilil a’maal “ ( hadits dhoif itu adalah hujjah untuk fadhoilul a'maal.)

Pendapat kedua menyatakan bahwa Menyapu / mengusap muka baik setelah selesai salam ataupun selesai berdo’a tidak diajarkan oleh Rosulullah, dan hadits-hadits yang mendukungnya pun sangat lemah tidak bisa dijadikan sandaran, di antara hadits-hadits itu:


1. Hadits Umar, “Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mengangkat kedua tangannya saat berdo’a beliau tidak menurunkannya hingga mengusap wajahnya dengan keduanya.” Hadits ini dikeluarkan oleh At Tirmidzi dalam Sunannya 2/244, namun di dalam sanadnya terdapat seorang rawi Hammad bin Isa Al Juhaniy. Dikatakan oleh Ibnu Ma’in: Syaikhun sholeh, oleh Abu Hatim: dho’iful hadits, dan oleh Abu Daud: ia meriwayatkan hadits-hadits munkar. Serta didho’ifkan pula oleh Ad Daruquthni.

2. Hadits dari Saib bin Yazid dari bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila berdo’a beliau mengangkat kedua tangannya lalu mengusap wajahnya dengan keduanya.” Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dalam Sunannya no. 1492. Di dalam sanad haditsnya ada rawi yang bernama Hafs bin Hasyim keadaannya majhul (tidak diketahui) dan ada Ibnu Lahi’ah yang dho’if.

3. Hadits Ibnu Abbas, “Apabila kamu telah selesai berdo’a, maka usaplah wajahmu dengan keduanya (kedua tangan).” Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah, tetapi pada sanadnya ada rawi yang bernama Sholeh bin Hasan, munkarul hadits seperti kata Al Bukhori. Adapun An Nasa`i beliau mengatakan tentangnya, “Matrukul hadits.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Seorang yang berdo’a tidak boleh mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, karena mengusapnya dengan kedua tangan adalah ibadah, butuh kepada dalil yang shohih yang menjadi hujjah bagi seseorang di sisi Allah bila ia mengamalkannya. Adapun hadits dho’if, maka tidaklah kokoh untuk dijadikan hujjah.” (Dari Syarhul Mumthi: 4/54). Wal ‘ilmu ‘indallah.

Al Lajnah ad Daimah Li al Buhuts al Ilmiah wa al Ifta’ di dalam fatwanya No. 5779 menyebutkan, tidak disunnahkan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah salam (shalat). Kami tidak mengetahui terdapat riwayat dari Nabi Saw, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan. Kami juga tidak mengetahui tentang hal itu dari para sahabat ra. Kebaikan adalah mengikuti (sunnah) dan keburukan adalah melakukan perbuatan bid’ah.

Dari uraian tentang pendapat kedua di atas maka jelaslah hadits-hadits dalam masalah ini sangat lemah Meskipun banyak, hadits-hadits itu tidaklah saling menguatkan karena kedho’ifannya maka tidak boleh diamalkan. Untuk lebih terperincinya lihat Irwa`ul Ghalil: 2/ 178-179.

KESIMPULANNYA : BARANGSIAPA YANG BERPENDAPAT  BAHWASANYA HADITSNYA ADALAH HASAN DAN MENGAMALKAN HADITS DHA’IF UNTUK FADHAA’ILUL A’MAL ADALAH DI ANJURKAN, MAKA DISUNNAHKAN BAGINYA UNTUK MENGUSAP WAJAH. SEDANGKAN YANG BERPENDAPAT BAHWA HADITSNYA DHO’IF DAN MENGAMALKAN HADITS DHA’IF ADALAH BID’AH  MAKA TIDAK DISUNNAHKAN BAGINYA UNTUK MENGUSAP WAJAH.

______________________

Disampaikan oleh : Ust. Azkan Ihsan, S.SosI / 081379997779 Pada Pengajian Rutin Mingguan Masjid Baitul HIdayah B. Lampung

Sabtu, 10 Desember 2011

INTISARI KHUTBAH SHALAT GERHANA


Pada saat ini kita semua mengalami peristiwa penting, yaitu terjadinya gerhana matahari. Sebagaimana telah disyariatkan dalam ajaran Islam, setiap kali terjadi peristiwa gerhana, baik bulan maupun matahari disunatkan melaksanakan shalat gerhana.

Peristiwa ini hendaknya kita jadikan sebagai peringatan untuk meningkatkan taqwa kepada Allah swt, Tuhan yang mengatur segala keadaan dan kejadian, Dzat Yang Maha kuasa yang kekuasaan-Nya tidak dapat dibatasi oleh siapapun dan kekuatan manapun. Sudah seharusnya kita sebagai makhlukNya untuk menghamba dan mengabdi hanya kepadaNya, tiada tempat berlindung dan meminta pertolongan kecuali kepadaNya. Untuk itu marilah kita jauhkan segala keangkuhan, kesombongan, dan segala macam perbuatan yang mendorong kearah pensekutuan kepadaNya. Dengan bekal taqwa inilah yang akan mengantarkan kita kepada keselamatan dan kebahagiaan hakiki baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia tundukkan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai kepada waktu yang ditentukan, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Luqman ; 29)

Kita telah menyaksikan betapa Allah menjadikan alam seisinya, mengatur peredaran waktu, pergantian siang dan malam, kerapian peredaran seluruh benda langit yang tak terhingga jumlahnya tanpa terjadi benturan antara satu dengan yang lainnya, semua itu memberi pelajaran bagi hambanya untuk senantiasa berfikir mengambil hikmah atas seluruh peristiwa yang terjadi di alam semesta.

Sudah menjadi tugas manusia yang diberi karunia akal fikiran untuk memahami ayat-ayat kauniah yang banyak berbicara tentang alam semesta. Meskipun memiliki bekal yang sangat terbatas, manusia harus mencoba memahami sesuai dengan kemampuannya. Berkaitan dengan ciptaan Allah di seluruh jagad raya ini secara jelas disebutkan dalam Al-Qur’an, misalnya dalam surat Ali Imran ayat 190: 

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (QS. Ali Imran ; 190)

Dengan adanya perintah dan petunjuk untuk senantiasa memahami alam semesta ini, maka di kalangan umat Islam mulai melakukan observasi terhadap berbagai fenomena alam, sehingga ilmu tidak hanya bersifat kontemplatif belaka, namun didasari pengetahuan empiris dalam mengembangkan sains. Penerapan metode ilmiah dengan menggunakan pengukuran yang teliti dalam melakukan observasi dan menggunakan pertimbangan rasional telah mengubah pengetahuan manusia tentang alam semesta yang semula didominasi pengetahuan tentang dunia perbintangan (astrologi) bergeser menuju pengetahuan astronomi.

Atas dasar ini pemahaman manusia terhadap alam semesta ini semakin bertambah, tingkat akurasi dari waktu ke waktu semakin teliti. Hal ini dapat dibuktikan ketika para ilmuwan modern menemukan banyak kecocokan gejala-gejala alamiah dengan ayat-ayat kauniah.

Apabila kita renungkan secara seksama, maka semua makhluk yang diciptakan Allah, baik benda yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa, pada hakekatnya semua itu tunduk dan patuh kepada Dzat yang Maha Kuasa dan Bijaksana yang mengatur semuanya yaitu Allah swt. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 49:

Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.
(QS. An-Nahl ; 49)

Rasulullah memberi penjelasan kepada umatnya sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: Artinya: sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua macam tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah swt, terjadinya gerhana matahari atau bulan bukan karena matinya seseorang maupun hidupnya seseorang. Maka dari itu jika kamu melihatnya, berdoalah kepada Allah, dan bertakbirlah, dan bersedekahlah, dan shalatlah. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hadits di atas menjelaskan bahwa apabila kita melihat gerhana dianjurkan berdoa, bertakbir, bersedekah, dan melaksanakan shalat. Perintah Nabi ketika kita melihat gerhana untuk melakukan yang demikian itu merupakan hal yang wajar. Sebab kalau kita menjumpai suatu peristiwa yang luar biasa selalu diperintahkan untuk kembali mengingat kebesaran dan keagungan Allah swt.

Peristiwa gerhana bulan merupakan peristiwa alam biasa yang dapat diperhitungkan secara alamiah, kapan dan di mana akan terjadi. Penelitian tentang sebab dan waktu akan terjadinya gerhana sudah sejak lama dipelajari, terutama oleh umat Islam yang memang banyak berkaitan dengan kehidupan beragama. Al-Qur’an pun telah menyebutkan dasar-dasar ilmiah tentang perjalanan benda-benda langit, termasuk kemungkinan terjadinya gerhana seperti yang kita alami sekarang ini. Hakekat gerhana merupakan peringatan Allah swt agar manusia sebagai hambanya selalu ingat dan mendekatkan diri kepadanya. Sebagai manisfestasi kedekatan diri kepada Allah adalah mempererat jalinan silaturrahmi antar sesama.

Dengan demikian, ketika Allah swt telah mentakdirkan gerhana bulan terjadi di daerah kita, maka marilah kita ikuti petunjuk Rasulullah saw yang menganjurkan untuk melaksanakan shalat gerhana. Sedangkan berbagai penafsiran yang tidak ada hubungannya dengan peristiwa gerhana seperti menghubungkan dengan cerita-cerita yang tidak ada sangkut pautnya dengan ajaran Islam bahkan bertentangan dengan ajaran Islam sudah seharusnya untuk ditinggalkan. Karena semua itu akan mendangkalkan keyakinan kita bahkan menjerumuskan dalam kemusyrikan.

Marilah peristiwa gerhana ini kita jadikan renungan untuk memperbaiki diri kita dari segala dosa dan kesalahan, memohon ampun kepada Allah dan mengharap rahmat, nikmat, taufiq, dan hidayahNya, sehingga kita akan mendapatkan kebahagiaan lahir batin baik di dunia dan akhirat kelak. Di samping itu peristiwa ini kita manfaatkan untuk memperbanyak amal kebaikan dan berdoa untuk kita semua, supaya bangsa ini lepas dari berbagai musibah dan bencana dan memantapkan langkah nyata untuk menata kehidupan ini, supaya apa yang kita lakukan dapat memberi manfaat bagi diri maupun masyarakat secara luas.

Disampaikan  oleh penulis pada khutbah Shalat Gerhana Bulan Total di Masjid Ar-Rahman Rajabasa B.Lampung pada tgl 10 Desember 2011 pukul : 20. 00 WIB

HUSNUZHON ( BERBAIK SANGKA )


By : Azkan Ihsan

Husnudan artinya adalah berbaik sangka, berperasangka baik atau dikenal juga dengan istilah positiv thinking. Lawan katanya adalah su’udzan yang memiliki pengertian buruk sangka, berperasangka buruk atau dikenal juga dengan istilah negativ thinking.  Perbuatan husnudzan merupakan akhlak terpuji, sebab mendatangkan manfaat. Sedangkan perbuatan su’udzan merupakan akhlak tercela sebab akan mendatangkan kerugian. Kedua sifat tersebut merupakan perbuatan yang lahir dari bisikan jiwa yang dapat diwujudkan lewat perbuatan maupun lisan.

Berperasangka baik atau husnudzan hukumnya adalah mubah (boleh). Sedangkan berperasangka buruk atau su’udzan Allah dan rasul-Nya telah melarangnya,Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka adalah dosa, dan janganlah kamu mencari -cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagaian yang lain”. (QS. Al-Hujurat, 49 : 12)

Rasulullah SAW bersabda :m“Jauhkanlah dirimu dari prasangka buruk, karena berperasangka buruk itu sedusta-dusta pembicaraan (yakni jauhkan dirimu dari menuduh seseorang berdasarkan sangkaan saja)”. (HR. Bukhari dan Muslim). Dari Jabir bin Abdillah r.a, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda 3 hari sebelum meninggalnya."Janganlah salah seorang diantara kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Alloh Azza Wa Jalla." (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Nabi saw. bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka. Jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan maka Aku datang kepadanya dengan berlari-lari kecil“. (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Hikmah Berbuat Husnudzan : 

1. Senantiasa mensyukuri segala sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT, 2. Bersikap Khaof (takut) dan Raja’ (berharap) kepada Allah, 3. Optimis dan tidak berkeluh kesah serta berputus asa,  4. Akal fikiran menjadi jernih dan terjauhkan dari akal fikiran kotor, 5. Dicintai dan disayangi Allah SWT, Rasul dan orang lain, 6. Terjauh dari permusuhan dan lebih dapat mempererat silaturahmi, 7. Terjauhkan dari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri dan oranglain

Rasulullah pun pernah mengatakan bahwa tingkatan ukhuwah yang paling rendah adalah husnudzon. Sedangkan yang tertinggi adalah itsar (mendahulukan kepentingan orang lain dibanding kepentingan sendiri) Bagaimana kita bisa itsar kalau husnudzon saja terasa begitu sulit?  Bagaimana kita bisa mengalah demi orang lain jika berbaik sangka saja rasanya begitu susah?  Husnudzon kepada Alloh dan Rasul-Nya merupakan tuntutan tauhid, sedangkan su'udzon kepada keduanya termasuk kekufuran. Hikmah Husnudzan bagi diri kita senidiri : Percaya diri, Gigih, Berinisiatif,  Rela berkorban

Mengapa kita harus berfikir positif dan berbaik sangka (husnuzon) : 1. Ternyata orang lain seringkali tidak seburuk yang kita duga. Contoh terbaik adalah kisah nabi musa dan nabi khidir. (QS Al Kahfi : 60-82). 2. Husnuzhon dapat mengubah suatu keburukan menjadi kebaikan  3. Husnuzhon dapat menyelamatkan hati.  4.Husnuzhon  dapat membuat hidup kita lebih
Wallohu ‘A’lam, Semoga bermanfaat.

Kamis, 08 Desember 2011

Bagaimana Menjadi Murid Yang Sukses

Sekolah dengan tahun ajaran baru sudah dimulai. Itu artinya kita harus mulai untuk rajin belajar lagi agar kita dapat melewati tahun ini dengan baik. Nah, agar kalian dapat menjadi seorang murid yang sukses melewati tahun ajaran ini, tips-tips dibawah ini mudah-mudahan dapat membantu:

1.. Usahakan untuk masuk sekolah setiap hari.

Kadang kita merasa malas untuk bangun pagi, apalagi kalau di hari Senin. Aduh, rasanya masih mengantuk sekali.  Akhirnya kita berpikir untuk mencari alasan agar tidak masuk sekolah. Untuk mengejar ketinggalan, kalian meminjam catatan dari temanmu. Eit, tunggu dulu, dengan meminjam catatan dari teman bukan berarti kalian dapat mengerti apa yang diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah lho. Pada saat temanmu menulis catatan tersebut, dia menuliskan apa yang dianggap perlu olehnya. Nah, bagaimana kalau ternyata ada hal penting lain yang tidak tercatat olehnya? Wah, bisa-bisa saat ditanyakan di ulangan, kita tidak dapat menjawabnya.

2. Mulailah masuk ke kelas dengan perasaan terbuka.

Kalian pasti bertanya-tanya, apa sih maksud dari kalimat diatas? Kita sering merasakan kita menyukai kelas yang satu sedangkan ada juga kelas yang tidak kita sukai. Entah itu karenanya gurunya galak, tidak dapat menerangkan dengan baik atau bahan yang diajarkan tidak menarik. Karena alasan itulah akhirnya kita sering ogah-ogahan untuk mengikuti kelas tersebut dengan baik. Wah, kalau kita merasa begini terus, bisa-bisa kita tidak dapat nilai bagus di buku rapor. Agar, nilai di rapor tetap memuaskan cobalah untuk tidak langsung men-cap kelas tersebut tidak menyenangkan. Dengarkan apa yang diajarkan oleh guru tersebut, lalu resapi pelajaran yang diajarkan hingga kalian mengerti. Kalau ada yang kurang jelas, cobalah untuk bertanya kepada guru tersebut. Ingat, bahwa semua guru menginginkan agar muridnya pintar dan beliau tidak akan lelah untuk mengajari hingga kalian mengerti. Dengan begitu, selain kamu mengerti pelajaran yang diajarkan, kalian juga menciptakan hubungan yang baik dengan guru kalian.
                                                  
3. Selalu siap sebelum masuk kelas.

Untuk memastikan bahwa pelajaran yang diajarkan dimengerti oleh para muridnya, guru sering memberikan latihan untuk di rumah atau yang kita sebut dengan pekerjaan rumah (PR). Biasakan untuk menyelesaikan dan mengumpulkan PR tersebut di saat yang ditentukan. Apabila kalian kesulitan menyelesaikan tugas tersebut, kalian dapat meminta bantuan dari ayah, ibu, kakak, teman sekelas atau bahkan dari guru mata pelajaran tersebut. Begitu juga dengan tugas-tugas lain seperti prakarya atau kerajinan tangan. Cobalah untuk mengumpulkan tepat pada waktunya. Dengan demikian, nilai yang kalian dapatkan utuh dan tidak dipotong karena terlambat mengumpulkan.

4. Ikuti bimbingan belajar.

Kalian atau bahkan teman kalian pasti ada yang pernah ikut bimbingan belajar bukan? Bimbingan belajar dapat membantu kalian untuk lebih memperdalam pelajaran yang diajarkan di sekolah. Banyak bimbingan-bimbingan belajar yang dapat kalian ikuti. Pastikan sebelum mendaftar, bimbingan belajar yang kalian pilih merupakan bimbingan belajar yang baik. Coba tanyakan dengan teman kalian, bimbingan belajar apa yang diikutinya dan apakah itu membantunya untuk mengerti pelajaran di sekolah.

Nah, mulailah untuk rajin belajar dari sekarang dan selamat mencoba tips-tips diatas!                                                                         

( Berdasarkan pengalaman penulis selama lebih kurrang 16 Tahun menjadi Santri / Murid formal dan nonformal dari atas tikar kusam hingga bangku mewah  dengan ruang ber-AC )

Selasa, 06 Desember 2011

CIRI GURU / Orang Tua Profesional

By : Azkan Ihsan

1. Selalu punya energi untuk siswanya
Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.

2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran
Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.

3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa  mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.

4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif,  membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.

5. Bisa berkomunikasi dengan Baik terhadap Orang Tua
Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi  panggilan telepon, rapat, email dll.

6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya
Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.

7. Pengetahuan tentang Kurikulum
Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga  memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.

8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan
Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.

9. Selalu memberikan yang terbaik  untuk Anak-anak dan proses Pengajaran
Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan  mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa.

10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa
Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.

Sabtu, 03 Desember 2011

Istana Umar bin Khattab


“Dimanakan istana raja negeri ini?” tanya seorang Yahudi dari Mesir yang baru saja tiba di pusat pemerintahan Islam, Madinah. “Lepas Dzuhur nanti beliau akan berada di tempat istirahatnya di depan masjid, dekat batang kurma itu,” jawab lelaki yang ditanya.Dalam benak si Yahudi Mesir itu terbayang keindahan istana khalifah. Apalagi umat Islam sedang di puncak jayanya. Tentu bangunan kerajaannya pastilah sebuah bangunan yang megah dengan dihiasi kebun kurma yang rindang tempat berteduh khalifah.

Namun, lelaki itu tidak mendapati dalam kenyataan bangunan yang ada dalam benaknya itu. Dia jadi bingung dibuatnya. Sebab di tempat yang ditunjuk oleh lelaki yang ditanya tadi tidak ada bangunan megah yang mirip istana. Memang ada pohon kurma tetapi cuman sebatang. Di bawah pohon kurma, tampak seorang lelaki bertubuh tinggi besar memakai jubah kusam. Lelaki berjubah kusam itu tampak tidur-tiduran ayam atau mungkin juga sedang berdzikir. 

Yahudi itu tidak punya pilihan selain mendekati lelaki yang bersender di bawah batang kurma, “Maaf, saya ingin bertemu dengan Umar bin Khattab,” tanyanya.  Lelaki yang ditanya bangkit, “Akulah Umar bin Khattab.”  Yahudi itu terbengong-bengong, “Maksud saya Umar yang khalifah, pemimpin negeri ini,” katanya menegaskan.“Ya, akulah khalifah pemimpin negeri ini,” kata Umar bin Khattab tak kalah tegas.  

Mulut Yahudi itu terkunci, takjub bukan buatan. Jelas semua itu jauh dari bayangannya. Jauh sekali kalau dibandingkan dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba wah. Itu baru kelas rahib, tentu akan lebih jauh lagi kalau dibandingkan dengan gaya hidup rajanya yang sudah jamak hidup dengan istana serba gemerlap. Sungguh sama sekali tidak terlintas di benaknya, ada seorang pemimpin yang kaumnya tengah berjaya, tempat istirahatnya cuma dengan menggelar selembar tikar di bawah pohon kurma beratapkan langit lagi. “Di manakah istana tuan?” tanya si Yahudi di antara rasa penasarannya.

Khalifah Umar bin Khattab menuding, “Kalau yang kau maksud kediamanku maka dia ada di sudut jalan itu, bangunan nomor tiga dari yang terakhir.”   “Itu? Bangunan yang kecil dan kusam?”   “Ya! Namun itu bukan istanaku. Sebab istanaku berada di dalam hati yang tentram dengan ibadah kepada Allah.” Yahudi itu tertunduk. Hatinya yang semula panas oleh kemarahan karena ditimbuni berbagai rasa tidak puas hingga kemarahannya memuncak, cair sudah. “Tuan, saksikanlah, sejak hari ini saya yakini kebenaran agama Tuan. Ijinkan saya menjadi pemeluk Islam sampai mati.” Mata si Yahudi itu terasa hangat lalu membentuk kolam. Akhirnya satu-persatu tetes air matanya jatuh.

Menjaharkan Dzikir Sesudah Shalat Fardhu


Menjaharkan dzikir setelah shalat dapat dijadikan contoh dalam menyikapi secara dewasa perbedaan pendapat. Kita akan sadar bahwa khilafiyah adalah pilihan-pilihan, keluasan, keleluasaan dan kemudahan. Sehingga kita dapat menghindari sikap saling menyalahkan atau saling membid’ahkan. Berikut ini diuraikan masing-masing pendapat :

A.   Menjaharkan dzikir setelah shalat adalah bertentangan dengan Sunnah

Imam Alaa-uddin al-Kaasaani al-Hanafi dalam bukunya “Bada I’ush Shanaa-ie fii Tartiebsy Syaraa, dari Abu Hanifah berkata: “Mengeraskan suara takbir pada asalnya adalah bid’ah, karena takbir adalah dzikir. Sunnahnya dzikir diucapkan dengan suara lembut. Allah berfirman:  Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Nabi bersabda:  Do’a yang terbaik adalah yang diucapkan dengan suara lembut”

Dalam kitab “Ad Durrats Tsamin” karya asy-Syaikh Muhammad bin Ahmad Miyarah disebutkan bahwa Imam Malik beserta ulama membenci kebiasaan para imam yang memimpin para jamaah masjid untuk berdo’a bersama dengan suara keras di setiap selesai shalat wajib.   Al-Imam asy-Sathiby telah menukil dalam kitabnya “Al I’tishaam” tentang kisah seorang laki-laki dari kalangan pembesar kerajaan yang terhormat, terkenal dengan sifat keras dan kasar. Laki-laki itu singgah di sebuah rumah tetangga Ibnu Mujahid. Sementara Ibnu Mujahid tidak pernah berdo’a setiap selesai melakukan shalat wajib lantaran ia berpegang pada madzhab Imam Malik yang mengatakan makruh.  Al-Imam an-Nawawi dalam “Al-Majmuu’” berkata: “Imam Syafi’i beserta para pengikutnya sepakat atas disunnahkannya berdzikir setiap selesai shalat. Hal ini disunnahkan bagi seorang imam, makmum, sendirian, laki-laki, perempuan, orang musafir dan lainnya. Adapun kebiasaan orang-orang atau kebanyakan mereka yang mengkhususkan do’a seorang imam dalam dua waktu shalat, yakni shubuh dan ashar tidak ada dalilnya.

Saikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tak seorang pun ulama hadits yang telah meriwayatkan hadits Nabi tentang imam dan makmum berdo’a bersama selesai shalat. Allah ta’ala telah berfirman: “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”  Telah diriwayatkan beberapa pendapat mengenai dua ayat tersebut. Dalam satu riwayat: “Maka apabila kamu selesai shalat, berdo’alah kepada Raabmu dan mohonlah kepada-Nya segala keperluanmu. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Jarir ath-Thabary dalam tafsirnya, Ibnu Abi Hatim, asy-Syam’any, al-Qurthuby, Ibnul Jauzi, Ibnu Katsir, asy-Syaukany, as-Sya’di, dan Ahli tafsir yang lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Berkumpul untuk membaca al-Qur’an, berdzikir dan berdo’a adalah perbuatan baik dan disunnahkan, selama hal itu tidak dijadikan sebagai kebiasaan,  dzikir secara bersama-sama setelah melaksanakan sholat adalah perkara yang bid’ah, tetapi bila tujuannya untuk mengajari orang lain sesekali saja maka hal itu diperbolehkan, tetapi tidak dilakukan setiap hari.

B.   Menjaharkan Dzikir setelah shalat adalah sunnah

Dzikir setelah shalat merupakan ibadah yang sangat disunnahkan dan salah satu kebiasaan Rasulullah SAW Dalam sahih Bukhari dan Muslim disebutkan pada Bab Dzikir setelah shalat, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata :

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

Sesungguhnya mengeraskan suara dzikir ketika orang-orang usai melaksanakan shalat wajib merupakan kebiasaan yang berlaku pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.” Ibnu Abbas menambahkan, ‘Aku mengetahui mereka selesai shalat dengan itu, apabila aku mendengarnya.      Masih dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:

 كُنْتُ أَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالتَّكْبِير

“Aku megetahui selesainya shalat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan takbir.” (HR. al-Bukhari)  

Hadits-hadits di atas merupakan dalil tentang sunnahnya menjaharkan (mengeraskan) suara dzikir sesudah shalat

Ibnu Huzaiman memasukkan hadits di atas daam kitab Shahih-nya, dan memberinya judul, Bab: Raf’u al-Shaut bi al-Takbiir wa al-Dzikr ‘inda Inqidha’ al-Shalah..( hal ini menunjukkan bahwa beliau memahami bolehnya mengeraskan takbir dan dzikir sesudah shalat).   Ibnu Daqiq al-‘Id, juga menyatakan hal yang sama, (Ihkamul Ahkam Syarah Umdatul Ahkam). 

Imam al-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim mengatakan, bahwa hadits ini adalah dalil bagi pendapat sebagian ulama salaf bahwa disunnahkan mengeraskan suara takbir dan dzikir sesudah shalat wajib. Dan di antara ulama muta’akhirin yang menyunahkannya adalah Ibnu Hazm al-Zahiri. Imam al-Syafi’i, memaknai hadits di atas dengan mengatakan, bahwa beliau SAW mengeraskan (dzikir sesudah shalat) hanya dalam waktu sementara saja untuk mengajari mereka tentang sifat dzikir, (Lihat Syarah Shahih Muslim lin Nawawi).

 Fatwa-fatwa para ulama tentang dzikir sesudah shalat:

Fatwa Syaikh Utsaimin rahimahullaah, beliau  pernah ditanya tentang hukum menjaharkan dzikir sesudah shalat lima waktu dan bagaimana cara pelaksanaannya? Beliau menjawab: Bahwa sesungguhnya menjaharkan dzikir sesudah shalat fardhu adalah sunnah. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari hadits Abdullah bin Abbas  (Fatawa wa Rasail Ibni Utaimin, jilid 13),  Fatwa Syaikh Ibnu Bazz , Beliau menjelaskan: Yang sunnah adalah menjaharkan dzikir sesudah shalat lima waktu dan sesudah shalat Jum’at ba’da salam… (Kumpulan pertanyaan yang ditujukan kepada Syaikh Ibnu Bazz oleh Muhammad al-Syayi’)

Syaikh Shalih al-Fauzan :  “Doa yang dicontohkan dari Nabi SAW dan yang disyari’atkan, seseorang diberi pilihan antara menjaharkannya atau melirihkannya.  Adapun berdoa dengan berjama’ah (bersama-sama), maka termasuk bid’ah.  Sedangkan dzikir sesudah shalat, maka yang sunnah adalah menjaharkannya sesuai dengan hadits-hadits shahih yang menyebutkan bahwa para sahabat menjaharkannya sesudah shalat  (al-Muntaqa’ min Fatawa al-Fauzan: Juz 3). Fatwa Lajnah Daimah : Disyariatkan untuk mengeraskan dzikir setelah shalat wajib, karena adanya keterangan yang shahih dari hadits Ibnu Abbas RA, Imam an-Nawawi sendiri dalamm kitab “Tahqiq” dimana beliau berkata: “Disunnahkan berdzikir dan berdo’a dengan suara rendah setiap selesai shalat. Dan jika seorang imam ingin mengajari para makmum, boleh baginya mengeraskan dzikirnya, dan apabila mereka sudah mengerti, imam itu kembali merendahkan suara dzikirnya.

Dalam potongan hadits qudsi Allah berfirman, “Jika mereka menyebut-Ku dalam suatu kumpulan, maka Aku menyebut mereka dalam kumpulan yang lebih baik.” Kumpulan yang lebih baik di sisi Allah biasa ditafsirkan sebagai Malaikat. Sabda Rasulullah SAW lainnya: “Apabila kamu melintasi taman-taman surga, maka hendaklah engkau singgah.” Para shahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu?” Beliau menjawab, “Kumpulan-kumpulan orang yang berdzikir.” Pada riwayat lain dikatakan “Majelis-majelis dzikir.”

Dari Abu Hurairah RA: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkati lagi Maha Tinggi, memiliki para Malaikat yang mempunyai kelebihan yang diberikan oleh Allah. Para Malaikat selalu mengelilingi bumi. Para Malaikat senantiasa memerhatikan majlis-majlis zikir. Apabila mereka dapati ada satu majlis yang dipenuhi dengan zikir, mereka turut mengikuti majlis tersebut di mana mereka akan melingkunginya dengan sayap-sayap mereka sehinggalah memenuhi ruangan antara orang yang menghadiri majlis zikir tersebut dan langit…” dan diakhiri dengan, “Allah berfirman: Aku sudah mengampuni mereka. Aku telah kurniakan kepada mereka apa yang mereka mohon dan Aku telah berikan ganjaran pahala kepada mereka sebagaimana yang mereka mohonkan.” Para Malaikat berkata: “Wahai tuhan kami, di antara mereka terdapat seorang hambaMu. Dia penuh dengan dosa, sebenarnya dia tidak berniat untuk menghadiri majlis tersebut, tetapi setelah dia melaluinya dia terasa ingin menyertainya lalu duduk bersama-sama orang ramai yang berada di majlis itu.” Lalu Allah berfirman: “Aku juga telah mengampuninya. Mereka adalah kaum yang tidak dicelakakan dengan majlis yang mereka adakan.” (HR. Bukhori dan Muslim)

_______________

Disampaikan Oleh :  Ust. Azkan Ihsan, S.Sos.I / 081379997779  Pada  Pengajian  Rutin  Mingguan Masjid Baitul Hidayah